Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Rabu, 26 Desember 2012

beberapa hal yang kusebut obat (keping dua delapan)


Aku menyukai menulis. Entah mulai kapan. Sama seperti dulu aku menyukai musik. Piano. Dulu aku pandai memainkannya. Namun selepas seragam putih merah, aku mulai lebih menyukai bermain hati daripada piano. Aku mendapat menstuasi pertamaku di tahun terakhir sekolah dasar. Jadi wajar saat masuk sekolah menengah pertama aku mulai menyukai lawan jenis. Puber pertama sebutannya. 

Sekarang ini aku masih berusaha mengingat mulai kapan aku menyukai menulis. Sepertinya semua dimulai saat orang tuaku menganggap aku masih kecil. Padahal aku sudah mulai mengenal apa itu pacaran. Aku mulai menulis apapun yang terjadi disebuah buku yang biasanya kita sebut dengan diary. Orang tuaku termasuk kaku dalam hal komunikasi. Mereka menganggap kami,dan aku khususnya masih terlalu kecil untuk protes ini itu. Percaya atau tidak, aku mulai terbuka dengan ibuku saat aku kelas 1 SMA. Dilanjut dengan mulai berani berpendapat didepan bapak saat masuk kuliah.

Aku bukannya tak mempunyai sahabat. Aku hanya orang yang menganggap ada hal-hal yang boleh dibagi dan ada hal yang seharusnya kau simpan sendiri. Dan saat aku merasa mulai “meluber” menulis adalah  pelarianku. Aku menyebutnya obat.

Ini bukan obat satu-satunya yang aku pakai untuk “sembuh”. Obatku yang lainnya adalah doa. Pernahkah kalian berbincang dengan Tuhan? Bukan hanya meminta sesuatu dan menuntut ini itu. Tapi benar2 bercerita. Sebenarnya dengan sifat Tuhan yang Maha tau pun tanpa bercerita Tuhan sudah pasti tau apa yang terjadi. Tapi Tuhan suka terhadap hambanya yang mendekat dan butuh pada-Nya.

Kebiasaan itu telah lama aku lakukan dan makin sering aku lakukan dewasa ini. Aku masih belum terlalu terbuka dengan orang lain. Dan memang aku lebih suka bercerita kepada Tuhan. Jawaban Tuhan tidak selalu datang saat itu juga, tapi selalu tepat waktu. Tidak pernah terlambat. Dan disini waktunyalah yang berlaku.
Obatku yang lainnya adalah melihat pantai. Aku suka memandang garis batas pantai dengan langit. Menurutku itu seperti memandang jalan hidup. Kita tau, masa depan itu sifatnya misteri. Belum terjadi. Tapi minimal kita harus mempunyai pandangan apa yang ingin kita miliki atau lakukan besok. Laut itu tak terbatas. Mata kitalah yang membatasi. Dan batasnya sampai ke garis putih antara air laut dan langit.

Aku beri tau lagi yang lainnya. Obatku kali ini memiliki dua warna. Dimana warna yang pertama yaitu dapat berkumpul bersama orang-orang yang aku sayang. Dan warna yang kedua adalah memperhatikan orang. Iya, terkadang aku butuh membandingkan diriku untuk bersyukur atau untuk iri. Iri pada orang-orang yang masih bisa tertawa bahkan dikeadaan yang menurutku akupun mungkin tak bisa tertawa seperti mereka. Mereka seperti menikmati tanpa mengeluh.

Jadi bisa aku sebutkan obat apa saja yang aku butuhkan. Yaitu: mengerjakan yang aku suka, mendekatkan diri pada Tuhan, menyatu dengan alam, berkumpul bersama orang yang kita sayang, dan bersyukur Jadi, apa obatmu?

Minggu, 23 Desember 2012

Surat untukku.. #postcardfiction

Senin, 09:30 P.M

Teruntuk diriku yang biasa kupanggil Kamu.
Di hati dan fikiran yang aku tau agak kacau.


Kamu pasti tau alasan kenapa aku ingin menegurmu? Ya. Mulai ada yang berubah lagi dari dirimu. Kenapa kamu? Mulai banyak mengeluh dan memprotes ini itu. Lupa bahwa semuanya telah tertulis rapi dilembar-demi lembar lauhul mahfus? Lupa kalo terlalu banyak mengeluh itu artinya kufur nikmat dan malah menjauhkan rejeki? Lupa kalau mengeluh itu membuat kamu kelihatan jelek? Mana ada lelaki yang mau dengan wanita yang hobinya mengeluh?

Sebenarnya apa yang kamu keluhkan? Tentang masa depan yang kamu belum tau mau jadi apa? Atau tentang hati yang tak tau pada akhirnya akan berlabuh dimana? Tentang memilih ini dan itu? Atau tentang apa lagi?

Kamu, bolehkah aku bertanya beberapa hal? Sudahkah kau berusaha? Berdoa? Meminta restu orang tua? Menolong orang lain? Beramal? Berbuat baik? Memaafkan dirimu sendiri dan orang lain? Menjaga dirimu sendiri dari perbuatan yang dibenci Tuhan?
Sudahkah kau bersyukur untuk nafas yang masih kau hirup gratis dan lancar? Untuk senyum yang hanya tinggal menarik pipimu tapi berhasil membuatmu terlihat lebih cantik? Sudahkah itu? Kalau jawabanmu lebih banyak belum untuk hari, kamu benar-benar keterlaluan.

Kita sering membahas ini. Setiap kali aku merasa kamu berubah pasti aku selalu mengingatkannya bukan? Kamu pasti mulai bosan. Jadi, kenapa kamu masih saja berkeras untuk melawan keadaan yang membuatmu justru menjadi tegang dan tidak nyaman? Kembalilah ke fitrahmu sebagai manusia. Bukankah semua kejadian ini itulah yang justru membuatmu masih pantas disebut manusia? Silahkan berteriak, menangis. Lalu kembalilah menjadi baik.


Pelukku untuk aku yang merindukan diriku sendiri
 Yang kusebut kamu.
\

Sabtu, 15 Desember 2012

Hello or Goodbye?

"Beberapa hari lagi aku pulang."
"Berapa lama?"
"Agak lama."

Aku berpikir beberapa menit sebelum membalas lagi SMSmu. Kenangan tentang kita baru saja melintas. Masih beranikah aku bertemu denganmu? Aku sejauh ini membangun tembokku sendiri sekuat mungkin. Apa harus kuhancurkan lagi?

"Yasudah. Ati-ati ya. aku tunggu :) "
SENT...

Bagian paling menyedihkan dari sebuah pertemuan adalah saat kau tau tetap akan ada perpisahan setelahnya. seperti menyebar kenangan diberbagai tempat. Kemudian disuatu waktu memungutinya kembali sendirian.

Lalu kuputuskan bertemu denganmu. Dulu aku bisa membangun tembokku. Aku berharap besok pun begitu.

Dan sepertinya kali ini aku lebih berhasil. Pengalaman memang guru yang luar biasa. Dia membuat kita menangis terlebih dahulu lalu membuat tertawa. Begitu pula denganku. Dulu aku akupun begitu. Semirip bayi saat  pertama kau tinggalkan. Merangkak, berdiri, berjalan pelan, terjatuh. Berdiri lagi dengan memegang tepian meja, berjalan, sesekali terjatuh. Begitupun seterusnya.

Aku tau rasanya ditinggalkan. Kamu pernah meninggalkanku bukan? Tapi aku belum pernah sekalipun meninggalkanmu. Jadi, apa kamu tau rasanya ditinggalkan? Atau kehilangan? Aku takut kamu menjadi manja. Ku keraskan hatiku. Menguatkannya. Mematikan rasanya sampai rasanya seperti mati. Namun...

Tanganmu menggenggam tanganku. Mulut kita membisu. Entah apa yang ada di pikiran kita masing-masing. Aku mencoba tak mau tau.  Waktu semakin berlalu. Kita berdua tau ini tak akan lama lagi. Waktu kita hampir habis. Entah tamat atau akan ada episode baru. Aku menghela nafas dalam. Kau menoleh. Memperhatikanku. Aku menoleh. Memperhatikan kita. Tanganmu masih sehangat dulu. rasa nyaman ini masih seperti yang dulu. Hati ini pun masih menyimpan namamu. Aku menunduk. Agak lama. Menimbang ini itu. Menyakinkan diri bahwa aku gagal lagi. Lalu berkata....

"Bisakah kau jangan pergi lagi? Ya, aku pernah takut datangnya hari ini. Aku takut terlambat lagi untuk mengakui. Aku mencintaimu."

Senin, 03 Desember 2012

Aku - Kamu ( keping dua tujuh)

Dulu
Aku kamu
Terburu buru
Ingin menjadi satu

Lalu
Aku kamu
Berharu biru
Melewati rindu
Berusaha menawar waktu

Setelah itu
Aku kamu
Ragu-ragu
Berpikir masihkah ingin bersatu

Namun kamu
Yang bukan aku
Memundurkan langkah satu-demi satu
Tanpa memberi tau

Aku
Yang bukan kamu
Hanya bisa membisu
Tanpa mempersiapkan diri terlebih dulu
Tertipu

Sabtu, 24 November 2012

Pelukku Teruntuk Kalian (keping dua enam)

Kali ini tentang kita, bukan kami. Dan didalam kita ada kalian. Para malaikat dengan sayap transparant. Yang lebih memilih berjalan kaki bersamaku daripada terbang. Toh aku membutuhkan kalian didekatku, bukan terbang diatas, didepan atau malah dibelakang. Apakah aku sudah melakukan hal yang sama untuk kalian? Seperti menolong, memperingatkan atau menjaga? Jika belum, tolong maafkan aku..


Kalian itu dimulai dari kedua orang tuaku. Akan sangat panjang dan mungkin tak bisa habis jika aku membahas tentang kalian. Sungguh maafkan aku yang terlalu egois menggunakan waktu untuk diriku sendiri dan jarang mendengar keluhan kalian. Sungguh, aku menyayangi kalian lebih dari aku menyayangi dia. Tolong percaya, sekalipun aku sering memikirkan dia, tapi kalianlah yang lebih sering membuatku menangis saat mengingat aku akan ditinggalkan suatu hari nanti. Dan aku belum siap kehilangan kalian sesiap aku kehilangannya kemarin. Kau ibu, pernah berkata, tak akan meninggalkanku sebelum aku menemukan jodohku dan melihat kami hidup dengan tenang dan damai. Sedang kau bapak, sekeras apapun kau, kau mulai paham aku telah mendewasa dan mulai bisa menentukan pilihanku sendiri. Kau sadar,kau hanya tinggal memberi restu serta doa. Terima kasih atas rasa sayang yang tak terputus sekalipun kalian mulai lelah melihatku belum bisa berdiri sendiri di usia sedewasa ini. Boleh aku cukupkan tentang kalian? Aku sudah hampir menangis.


Kalian selanjutnya adalah saudaraku, keluargaku. Kalian itu pelengkap. Betapa sepinya rumah ini tanpa kalian. Adiku, kita memang lebih sering bicara dalam diam. Tapi kita mengerti satu sama lain. Dalam diam kita ini kita tau kita bisa saling menjaga. Mungkin hanya sedikit yang bisa aku tulis tentangmu. Tapi percayalah, didalam diamnya bibirku itu karna terlalu banyak cerita tentangmu. Dan dalam diamnya aku, banyak doa untukmu.


Kemudian kalianku berikutnya yaitu mereka, Sahabatku. Kalian itu tempatku mencari warna. Beberapa memang sewarna denganku. Tapi lebih banyak yang berbeda. Aku membutuhkan pembeda untuk belajar bukan? Aku membutuhkan pembeda untuk dibutuhkan dan membutuhkan. Pembeda untuk melengkapi dan terlengkapi. Pembeda untuk belajar dan mengajar. Untuk menghargai dan dihargai. Pembeda untuk memahami dan dipahami. Untuk menegur dan ditegur. Untuk dicintai dan mencintai.

Akupun membutuhkan yang sama denganku untuk bercermin. Untuk mengetahui betapa menyebalkannya ataupun menyenangkannya menjadi aku. Kenapa aku menyebut kalian sahabat? Karna kalian bukan hanya orang yang berbasa basi tentang "Hai" kemudian "Owh.." Dan bukan pula orang yang terlalu takut menegurku, pun tertawa bersamaku. Bukan orang yang sejarang apapun kita bertemu, kita akan kaku. Bukan.


Dan terakhir kalianku itu, kamu. Aku membutuhkanmu diantara malaikat-malaikat bersayap transparanku. Tapi aku memang sedang menyebalkan akhir-akhir ini. Asal kamu tau, aku sedang bertaruh dengan waktu, dengan masa depanku. Aku tak menceritakannya padamu? Ada dua kemungkinan kalau begitu: 1. Aku tak mau merepotkanmu dengan hal yang mungkin sepele bagimu tapi berat untukku. 2. Aku tak mau kamu mengasihaniku. Beda antara kasihan dan rasa sayang. Tugasmu, jika kamu mau, hanya menyayangiku. Tanpa perlu kasihan. Ragaku masih lengkap, jadi aku belum butuh rasa kasihanmu. Atau mungkin alasan lainnya adalah aku belum terlalu percaya padamu? Aku takut kau dengan santai membicarakan hidupku kepadanya, orang yang tidak aku suka yang kebetulan menjadi orang dekatmu? Tidak perlu, sungguh. Akan lebih membebaniku melihat tawanya ketika mengetahui keadaan ku saat ini. Aku punya pilihan. Tapi kecil. Dan aku terlalu sayang untuk mempertaruhkan hal kecil ini untuk masa depanku. Kamu tau, mungkin aku hanya perlu suntikan kesabaran, kenormalan, dan confident dalam dosis tinggi  untuk saat ini.


Tuhan selalu baik. Selalu. Tuhan selalu tahu kapan waktunya untuk menggiringku untuk berdekatan dengan kalian. Dia selalu tau, ada waktunya dimana aku harus menuang apa yang aku pikirkan dan rasakan ketelinga kalian. Tuhan selalu tahu cara membuatku kembali mengeluh kepada kalian. Dan dengan cara itu Tuhan menyakinkanku bahwa aku ini masih manusia biasa yang membutuhkan kalian, dan juga amat sangat membutuhkan Dia. Dia amat tau kapan membuatku menyerah dan memasrahkan semua kepada-Nya saja. Aku hanya kadang bingung, sudah berusaha maksimalkah aku? Dan itu yang membuatku sakit. Iya, pikiranku terkadang terlalu ganas untuk dilawan. Mungkin juga karna ego dan nafsu. Entahlah, yang aku tau, mungkin memang sudah waktunya aku lebih penurut sebagai manusia.


Satu lagi permasalahan yang aku hadapi di usia mendewasaku ini. Kali ini bukan soal hati. Bukan soal memilih lelaki yang ini atau yang itu. Bukan masalah aku harus move on dengan cara apa. Bukan! Ini masalah berani mengambil keputusan atau tidak. Dengan keduanya yang beresiko. Dan resiko tersebut pasti kembali ke aku. Aku membutuhkan kalian, setidaknya untuk berkata "Coba fikir lagi. kamu pasti bisa bijaksana mengambil keputusan. Ini hidupmu,tanggung jawabmu sendiri." Darn! Kalian belum pernah melihatku sekacau ini bukan? Karna biasanya aku bisa menenangkan diriku sendiri. Dan kali ini, agak gagal. Aku membutuhkan kalian. Aku masih manusia...


Teruntuk para kalianku. Beberapa dari kita punya sayap transparan yang jarang kita gunakan. Tapi percayalah, itu akan sangat berguna disaat yang tepat. Seperti saat ini, sayap-sayap kalian sedang memeluku. Dan kalian yang lainnya tersenyum. Tenanglah, akan tiba giliran kita saling memeluk. :)


*Kalianku: Ibu & Bapak, Keluarga, Para sahabat, dan kamu. Tolong bilang saat tiba giliranku memeluk kalian. Tapi sebelum kalian bilangpun, kedua tanganku selalu terbuka untuk kalian :*

Sabtu, 10 November 2012

Seni melupakan (keping dua lima)

Saat bertanya tentang maaf kepadaku kamu seperti bertanya pula tentang iklas.
Menurutku, memaafkan adalah suatu kondisi dimana kita benar-benar lupa akan kesalahan orang. Sehingga kita tidak mengungkitnya lagi dilain waktu. Hampir mirip dengan iklas bukan?
Iklaspun begitu. Suatu keadaan dimana kita hampir ato tidak merasa kehilangan sesuatu. Dan iklas itu ngga pake tapi.
Rumit? Bingung?
Jadi kalau ada orang yang bilang "iya,aku udah maafin kamu kog" tapi dilain waktu masih dibahas, itu belum benar-benar dimaafkan. Dan saat belum bisa memaafkan,berarti pula belum iklas.
Jadi aku lebih suka belajar melupakan. Saat lupa berarti kamu iklas, berarti kamu memaafkan. Ini menurutku.
Saat melupakan kesalahan orang tak jarang aku melupakan orangnya juga. Tapi tetap ini tergantung seberapa besar salahnya. Jika salahnya bisa aku lupakan, berarti cukup salahnya saja. Namun jika tidak, maaf, orangnya pun harus aku lupakan. Bukan, bukan pendendam. Ini lebih ke menghindari sifat munafik. Justru dendam itu saat orang belum bisa melupakan kesalahan orang lain.
Terserah kalian mau belajar memaafkan seperti apa. Inilah caraku. Dan terserah kalian pula akan memberi maaf kepadaku seperti apa...

Aku sering berkata pada diriku sendiri "Aku bukan tipe pemaaf, tapi aku tipe pelupa. aku akan berusaha melupakan kesalahan kalian."

Kamis, 08 November 2012

Aku dan Para Bintang (keping dua empat)

Hallo.... aku Scorpio. Iya, memang kalajengking. Tapi aku tak semenakutkan itu. Bisaku tetap tak akan iseng aku pergunakan untuk bermain-main. Jadi tenang saja. Mereka bilang aku ini misterius. Mungkin. Aku agak susah menilai diriku sendiri tanpa bantuan kalian. Mereka suka memujiku karna aku penyimpan rahasia yang baik. Katanya juga aku seorang yang setia. Ahh... terima kasih. Tapi mereka sering memamarahiku karna aku pendendam. Sebenarnya bukan pendendam, tapi orang yang susah melupakan. Apapun. Termasuk kesalahan orang lain. Jadi, ya begitulah...

Disini aku tak sendirian. Tak semalang itu nasibku. Aku dikelilingi para bintang. Sama terangnya. Sama seimbangnya antara plus dan minus... Baiklah, aku akan menceritakan tentang mereka.

Dia, sagitarius. Menurutku dia orang yang penuh konsentrasi. Lihat saja panah yang dibawanya. Hanya orang yang punya konsentrasi luar biasa yang bisa memanah. Atau malah justru dia orang yang tak mau menyerah? Sesering apapun dia memanah dan meleset, dia tetap kekeuh mengenggam panah. hebaaat. Tapi menurutku mereka terlalu ngeyel, jika tak bisa mendapatkan sesuatu dengan panah kenapa tak menggantinya dengan pistol? Atau beli saja di pasar mungkin? Oh sagitarius, aku mengagumimu.

Yang disebelah Sagitarius adalah Capricorn. 2tahun lebih menjalin hubungan spesial dengannya membuatku sedikit banyak mengerti seperti apa dia. Dia sabar untuk orang sebawel aku. Atau mungkin karna perbedaan umur kami. Entahlah. Tapi terima kasih untuk kesabaranmu. Kamu juga humoris sampai-sampai aku sering cemburu karna banyak yang menyukaimu. Tapi kamu pula orang yang terlalu sering komplain ini itu. Bahkan untuk urusan sepele seperti warna baju. Wooowww..... Capricorn, terima kasih.

Lalu aquarius. Sebenarnya kami tidak terlalu dekat. Tapi tentu saja aku menghormatinya. Dia orang yang terbuka. Aku beberapa kali bertukar pikiran dengannya. Dia juga kreatif. Ada saja hal yang mereka buat untuk membuat kami sekedar bilang astaga. Tapi dia juga suka menyendiri. Mungkin justru itu yang membuatnya kreatif. Mungkin.

Pices. Dia teman kecilku. Sahabatku. Meski sekarang ini kami jarang bertemu sahabat tetap saja sahabat. Dia baik, amat baik malah. Aku sering merepotkannya dengan ada saja kepanikanku. Dia juga tidak egois. Kami dulu sering berbagi kamar.Tepatnya kamarnya yang dibagi untukku. Menginap semalam hanya untuk sekedar saling curhat attau nonton film baru. Tapi dia tertutup sekali memang. Sampai hari ini  aku masih belum berhasil mencari tau siapa orang yang sedang dia suka. Dasaarr...

Aries. Sikap percaya dirinya sering membuatku hanya bisa diam. Luar biasa. Dia juga pemberani. Terutama berani mengambil keputusan. Tapi karna aku diam dia jadi agak egois memutuskan ini itu semaunya. Oh baiklah, kamu mengagumkan, sekaligus membuatku pusing.

Taurus. Pacar pertamaku. Aku masih ingat coki-coki yang tiap hari kamu bawa lalu di istirahat jam pelajaran terakhir kamu berikan sambil berkata " jangan bilang-bilang sama yang lain ya. Biar gak pada minta."  Kamu juga baik terhadap siapa saja. Paling males kalo disuruh berantem. Jadi lebih sering bilang "terserah" waktu kita ribut. Lalu diam-diam nulis permintaan maaf yang kamu letakan di laci mejaku. Tapi kamu juga agak pencemburu. "Jangan genit bisa gak sih?" itu omelanmu jaman dulu. Padahal kamunya lebih genit. Ahh... coki-coki :)

Gemini. Pacar terakhirku saat ini (sekarang belum nemu pacar baru soalnya). Dia orang yang baik dan supel. Mudah beradaptasi. Itu pula yang aku katakan padanya saat dia mulai cemas atas masalah penempatan. Harus memendam kira-kira 6tahun sampe akhirnya Tuhan mengijinkan kami bersatu walau cuma sebentar. Tapi dia seorang yang tertutup. Gemini, aku menyayangimu..

Cancer. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang cancer. Tapi mereka orang yang hati-hati, pelindung dan simpatik. Tapi kalau udah sedih, bisa lebay banget.

Leo. Si singa ini adalah salah satu mantan terindah juga. Indah karna kami terlalu sering ribut. Dia pandai membawa diri. Banyak ilmu yang aku dapatkan dari dia, terutama tentang mencintai keluarga. Kami hanya terpaut beberapa bulan tapi dia sering merasa paling tua. Leo, apa kabar kamu?

Virgo. Entah mengapa mereka menyenangkan sekali. Pemalu dan rendah hati. Kadang membuat iri karna sikap ke-dewi-annya. Tapi mereka justru perfeksionis. Mungkin efek dari ke-dewi-annya ini.

Libra. Seorang yang romantis dengan senyum yang magis. Senyum yang dulu sering membuatku diam-diam melirik disaat pergi mengaji. Tapi dia jarang bersikap serius. Sial, aku hampir tak bisa membedakan kapan dia serius, kapan dia usil.


*Note: Siapapun kalian dibalik bintang-bintang ini, terima kasih untuk tidak meninggalkanku benar-benar sendirian.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sesaat Setelah Terbangun (keping dua tiga)

Apanya yang takut kehilangan kalau dia bukan milikmu?

dan

Apanya yang akan pergi lagi jika kembalipun tidak?

Ini semua pasti karna satu kata,yaitu "Merasa"
Merasa kehilangan padahal sama sekali tak memiliki. 
Merasa akan ditinggal pergi padahal kembalipun tidak.
Merasa, merasa, merasa....
Sudahlah,ijinkan hatimu bernafas. Ijinkan hatimu berlogika, bukan selalu merasa...

Jumat, 26 Oktober 2012

Surat terakhirku, sayang. (keping duadua)


Dear (ter)sayang,


Saat kau baca ini mungkin aku telah satu langkah didepanmu. Menoleh sebentar kebelakang lalu menggeleng. Dan kau, mungkin sedang memperhatikan wanita itu. Tanpa sadar bahwa aku sudah tak berada lagi ditempatku terakhir kali berdiri. Kau pasti mengira ini masih wanita yang sama. Kau salah sayang. Ini berbeda. Wanitamu banyak. Tapi bukan wanita itu sayang. Bukan.


Kau diam-diam mengagumi wanita ini. Aku tau saat kau tak sadar seperti orang mengigau menyebut namanya beberapa kali. Kau sebut dia cantik. Sayang,apakah kau lupa bahwa semua wanita itu cantik? Kau bilang wanita ini calon ibu yang baik. Sayang apakah kau lupa semua wanita pasti ingin menjadi yang terbaik untuk keluarganya? Kau bilang wanita ini pandai mengurus rumah. Sayang,masih banyak tangan wanita yang belum kau lihat saat mengurus rumah. Satu lagi, kau bilang dia cerdas. Sekali lagi sayang,apakah ada wanita yang tidak cerdas? Kami semua cerdas. Termasuk dalam hal membuat kalian para lelaki bertekuk lutut. Jadi sayang, sebenarnya kami ini sama,dengan sifat dasar kami sebagai wanita. 


Sayang, akupun sadar selain sifat dasar kami, kami mempunyai beberapa hal yang berbeda. Si kembarpun juga begitu,bukan? Apalagi kami. Mungkin dibeberapa hal dia lebih terlihat. Akh...aku pemalu sekali untuk hanya sekedar memperlihatkan lebihku didepanmu. Kau belum tentu menjadi pemilik utuhku,jadi untuk apa aku bersusah payah memamerkannya? Kau masih punya mata normal untuk melihatnya sendiri bukan?

 

Tapi sayang, sedikitpun aku tak ingin menjadi dia. Atau bersikap seolah-olah sepertinya agar kau lebih memperhatikanku. Aku tidak perlu melakukannya. Sungguh. 

Sayang,sekarang coba kamu jawab ini. Apakah dia seorang wanita yang perhatian? Mungkin iya. Tapi apakah perhatiannya penuh tertuju kepadamu seperti aku?

Apakah dia seorang wanita yang ikut tertawa bersamamu dan menangis pula saat kau sedih sepertiku? Kau boleh menjawab iya untuk tawa. Tapi tidak untuk bersedih. Dia pernah menertawakan kesedihanmu. 

Lalu hal yang terpenting, Apakah hatinya untukmu seperti hatiku untukmu? Sayang sekali sayang, jawabannya "Tidak." Memang semua yang aku sebutkan itu tersembunyi didalam,yang terabaikan oleh mata fisikmu. Tapi apakah mata hatimu tak mau melihatnya juga? Sayang sekali.

 

Sayang, aku tau kami terlalu indah untuk kalian abaikan. Tapi kami berbeda. Taukah kau mengapa aku tidak terlalu menunjukan apa yang aku punya? Benar, aku seseorang yang mencintai diriku. Aku orang yang suka sekali memeluk diriku sendiri sebelum menyalurkan pelukanku kepadamu. Aku orang yang suka sekali mengkritik diri sendiri sebelum aku sempat mengkritikmu. Aku orang yang sering bercanda dan tertawa bersama diriku sendiri sebelum aku tertawa bersamamu. Dan bagian tersusah adalah aku masih terus belajar memaafkan diriku sendiri sebelum memberi maaf atas salahmu. Apakah dia seperti aku sayang?


Sebelum ini aku sama sekali tidak perduli dia siapa, berumur berapa, bekerja dimana, putri siapa, apa hobbynya dan lain sebagainya. Namun setelah kau beberapa kali mengingau tentangnya, akupun mulai mencari tau. Namun sayang, sedikitpun tak ada yang aku ingini dari dia. Jadi kesimpulannya, jika kau tak mengaguminya mungkin aku tak akan perduli denggannya. Ini salahmu. Dan aku tak ingin terlibat dalam masalah ini. Masalah yang aku sendiri tak tau apa masalah sebenarnya. Jadi aku putuskan untuk tidak memperdulikannya. Dan tidak memperdulikan perhatianmu kepadanya. Oh...saat ini menyayangimu dalam diam dan berpura-pura tidak tau itu memang lebih baik. Tidak sayang, aku tidak menuntut balas. Aku yang memutuskan untuk menyayangimu. Jadi aku pulalah yang harus menanggung resikonya.


Sayang, diluar sana aku tau ada yang sedang mengagumiku seperti kau mengaguminya. Kau pasti tau rasanya mengagumi orang secara diam-diam, bukan? Dia pasti begitu. Sayang, kalau kau tak ingin benar-benar kehilangan orang yang tulus menyayangimu sepertiku, tolong jangan mengabaikanku terlalu lama. Karna mungkin dia akan menemukanku tepat disaat kau baru saja tersadar aku telah pergi.


Masih untukmu peluk ini, masih untukmu rindu ini.

Aku

Sabtu, 20 Oktober 2012

Selamat Pergi..(keping dua satu)

Sebelumnya terima kasih telah menyempatkan diri untuk menyapaku beberapa minggu yang lalu. Terima kasih telah mau berbagi tempat untuk saling memandang. Untuk saling mengetahui satu sama lain. Untuk mencari tau adakah yang telah berubah dari kita. Everybody change, begitupun aku dan kamu. Begitu pula perasaan dan hati kita. Bukan kau lagi alasanku untuk menangis, merindu, tertawa, mengenang. Maaf,bukan kau lagi. Perlukah ku beri tau sebelumnya kalau aku hampir berhasil melupakanmu? Tepatnya sebelum kau datang lagi. Beberapa tahun tanpa sapamu membuatku terbiasa. Tapi ternyata justru kau yang belum terbiasa. Kau fikir aku masih menggilaimu seperti beberapa tahun dulu? Sayang sekali, salah.  Rasa ini tinggal sisa untukmu.

Masih ingatkah kau (tanpa mau tau perasaanku) pernah bercerita tentang wanita lain? Kau bilang kau menyukainya, mengaguminya dan ingin bersamanya. Padahal saat itu telah ada aku. Kau mau tau rasanya? Tapi mana mungkin akan sama rasanya jika rasamu tak serupa dengan rasaku? Saat itu aku merelakan hatimu terbagi. Aku mencoba bertahan. Tapi pada akhirnya kau tetap memutuskan pergi. Aku bisa apa?

Kau tau berapa lama aku membiasakan diriku tanpamu? tanpa sapaan lembut darimu? tanpa canda tawamu?
Kau tau betapa susahnya membencimu? mengabaikanmu? berhenti memikirkanmu? tak mengirimkan doa untukmu?
Dan disaat aku mulai bisa, kau datang.
Pertahananku memang lebih kuat, tapi tetap saja kau menggodaku untuk menyambut sapaanmu.
Aku memang lemah. Tapi rasa ini sudah bukan untukmu lagi.

Aku tau ada nada cemburu saat aku menceritakannya. Hampir sama persis saat kau membicarakan wanita itu kepadaku. Ada sedikit rasa puas yang tak ku rencanakan. Sungguh.

Dan kini kau pergi lagi. Aku semakin tidak merasa kehilangan. Kau pernah seperti itu berulang kali.
Tapi mungkin justru kau yang merasa kehilangan perhatianku yang dulu? Maaf jika membuatmu kecewa. Harusnya kau belajar bahwa sebuah luka,jika rajin diobati,walau lama pasti akan sembuh.

Terima kasih telah pergi (lagi). Maaf aku tak merasa kehilanganmu seperti dulu.
Oh iya, jangan lagi kau ketuk pintu itu. Mungkin sudah tak ada yang akan menyaut. Aku telah pindah. Pindah darimu..

Awali saja lagi... ( keping dua puluh)

semalam ada yang bertanya ternyata keping-an ku sudah sampai pada angka 19. bisa dibayangkan jika itu sebuah gelas atau vas kaca yang pecah dan baru terkumpul 19 keping. sehancur apa itu?

ini kepingan-kepingan puzzle aku tentang kita dan kalian. aku belum tau akan menjadi gambar cantik seperti apa nantinya. Terima kasih telah menjadi bagian puzzle hidupku. aku menyayangimu dan kalian.

sampai akhirnya aku tiba dikeping ke-20 ini. aku mulai membaca ulang semua kepingan. patah hati, sakit hati, gagal, mengutuk, berpisah. hah...aku bosan. Laut dalam ku kenapa hanya berisi lumpur gelap? kemana terumbu karang cantik warna-warni? ikan badut? teripang? putri duyung? dan lainnya?

membaca lagi keping-keping terdahulu membuatku berfikir harusnya aku benar-benar memaafkan kalian. jika memaafkan berarti melupakan,berarti harusnya aku melupakan sakit hati itu. plus melupakan kalian. namun sayang sekali, beberapa dari kalian menempel terlalu lekat. maafkan aku

aku mulai mencium bau jodohku. dia sudah semakin mendekat. itu menurut fillingku. sepertinya dia seorang yang pemaaf dan tidak terlalu suka mencampuri urusan orang lain. dia pendiam dan memiliki senyum manis.
kamu fikir aku sedang falling in love? hahaa... belum.Ketemu sama orangnyapun belum. Aku hanya berusaha melihatnya dari diriku. Jodoh kita adalah separuh dari kita. cerminan kita. mungkin kali ini aku sedang bercermin ke dia. Aku sedang berusaha lebih pemaaf. atau lebih pelupa? melupakan salah kalian? dan melupakan salahku juga? anggap saja begitu.

kali ini,aku sedang menjatuhkan hati pada diriku sendiri, dan semua yang telah dan akan aku miliki. Terima kasih..

Kamis, 04 Oktober 2012

Kita dan Pantai. Kalian dan gunung. (Keping Sembilan Belas)



Aku bersyukur kita tak pernah menghabiskan waktu bersama disini. Di pantai cantik ini. Ahh... indah sekali dia. Dengan ombak yang tenang, pasir putih, bukit karang, dan suasana sepi. 

Kau tau, amat tau bahwa aku menyukai pantai. Aku tau, amat tau kau menyukai gunung. Memang begitu. Kita berbeda. Dan sampai hari ini aku masih percaya perbedaan ini yang membuat kita bersama. Atau lebih tepatnya pernah bersama. Membagi hari. Membagi sayang satu sama lain.

Itu kemarin, saat kita masih bersama. Sebelum kau memutuskan untuk pergi. Bukan hanya pergi dari kota ini. Tapi juga pergi dari kisah kita. Kita sekarang hanya dua orang dengan film masing-masing. Yang terkadang masih dipertemukan secara tidak sengaja disebuah stasiun tv. Anggap saja begitu.

Aku bersyukur kita tak pernah membuat cerita di pantai cantik ini. Karna jika itu terjadi, mungkin hari ini aku sedang memunguti kembali kenangan yang dulu tanpa sengaja kita cecer. Dan aku pasti hanya akan mengutuk masa lalu disini, dipantai cantik ini. Terima kasih karna tak terlalu menyukai pantai. Terima kasih karna tak membuang cerita kita disini. Karna aku sakit harus memungutinya sendiri.

Bagaimana denganmu dan gunung? Pasti banyak kenangan disana. Iya, kau dan wanita yang membuatmu kecanduan itu. Kalian sering menghabiskan waktu digunung. Bersama. Entah siapa yang menyengajai siapa. Tak terlalu penting mungkin. Karna yang terpenting untukmu adalah kau bisa menghabiskan waktu dengannya. 

Bolehkah aku bertanya, gunung itu secantik apa? Aku bukan tak menyukainnya. Aku hanya terlalu takut menjadi manja. Kau paham maksudku bukan? Kau juga boleh bertanya, pantai itu seperti apa padaku. Aku akan menjawabnya dengan antusias.
Sudahlah. Aku memang hanya ingin berucap terima kasih. Atas kenangan yang tak pernah tercecer di hampir semua pantai-pantai cantik yang aku sukai ini. Dan aku bebas kembali kesini sesukaku. Tanpa membuang waktu mengenang disudut mana kita pernah tertawa bersama. 

Bagaimana denganmu? Kau sedang menyebar banyak kenangan bersamanya di gunung yang kau sukai itu? hingga suatu hari kau sendiri yang mungkin harus memungutinya? Selamat...

Sabtu, 29 September 2012

Coba kamu dengarkan... (keping delapan belas)

Seperti yang dulu pernah aku katakan, aku menunggumu disini. Masih. Sampai hari ini.
Entah dengan besok. Besoknya lagi. Atau besoknya lagi.

Kamu tidak akan terlalu sedih bukan saat akhirnya tak menemukanku lagi disini untuk menunggumu?
Sama tidak sedihnya saat kamu memutuskan untuk pergi.
Waktu itu aku pernah memberitahumu, "Mungkin saat kamu kembali menemuiku disini justru aku yang telah pergi."

Haaah....susah sekali melepasmu sendirian sampai hari ini. Sekalipun aku tau kamu tak terlalu kesepian. Pun tak terlalu membutuhkanku.
Tapi bagaimana bisa,tiap kali aku berhasil mempercepat langkahku kamu datang memanggil.
Suaramu saja langsung membuat hatiku lemas. Bukan hanya kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut. Mungkin juga lumba-lumba yang melompat salto.
Apalagi melihat mata tampanmu. 

Tapi tetap akan ada waktu dimana aku yang harus bergantian pergi. Atau tak begitu perduli. Beku hati, mati rasa, biasa saja.
Entah apakah Tuhan akan mempersatukan kita kembali disebuah episode lagi atau tidak.
Sejauh apapun kamu, aku tau kamu masih suka memintaku singgah di mimpimu atau disekelebat fikiranmu. karna akupun begitu..

Salamku untuk wanita baru dihatimu. Tolong bilang ke dia, suatu hari, tak menutup kemungkinan kamu akan mencariku...
Salamku untuknya yang telah menggeser posisiku.

Kamis, 13 September 2012

karna Tuhan lebih tau... (keping tujuh belas)

Setiap orang pasti tak pernah ingin kecewa. manusiawi,sangat.
Namun saat seseorang mengecawakanmu, salahkah untuk marah dan berniat membalasnya? sebagai manusia dengan ego aku berkata, "itu tidak salah."
Aku pernah kecewa, pun kamu. Rasanya? Sama. Sakit. Yang membedakan hanya versi hiperbola kita masing-masing.
Aku pernah berniat membalasnya. Sampai hari inipun kadang masih. Tapi nalarku menahan,membantah,menolak. 
nalarku bertanya "untuk apa?"
"biar dia tau rasa sakitku"
"lalu?"
"udah."
"yakin sembuh kalo udah bales dendam?"
"mungkin."
"kamu terlihat tak yakin. untuk apa kau lakukan kalo kamu sendiri tak yakin bisa membalasnya?"
"aku tak tau."
"bukankah dia sudah menderita dengan ceritanya sendiri?
"kenapa bukan aku yang membalas? kenapa harus lewat orang lain?"
"intinya sama kan?dia belum bahagia."
"tapi...."
"egomu ikut main disini. apa bedanya siapa yang membalas kalo hasilnya sama atau bahkan lebih?"
"ya."
"anggap saja Tuhan terlalu menyayangimu sampai-sampai kau hanya perlu duduk dan melihat dia menerinma balasannya. Tuhan tidak ingin kau mengotori hatimu sendiri dengan dendam."
aku terdiam. Nurani yang menang.

Sejujurnyapun aku tak terlalu bahagia melihatmu menderita. meskipun kau pelaku utama penyebab lukaku.
Ya, ini memang ego. Aku harus mengalahkan egoku dengan senjata bernama iklas.
Dan aku butuh waktu.. 
Mungkin dulu,secara tak sadar akulah penyebab kekecawaan seseorang namun kini aku telah menerima bagianku.  Begitupun kamu dan semua orang pada akhirnya.

Jumat, 10 Agustus 2012

Meraba Rindu (keping enam belas)

Rindu itu 5 huruf hasil dari aku memikirkanmu
dulu sewaktu aku belum mengerti betapa pentingnya kamu dalam hidupku
aku tak pernah merasakan sakitnya merindu

Rindu itu 5 huruf hasil aku tak bertemu denganmu
melihat senyumu, tertawa bersamamu, bertengkar, dan menghabiskan waktu walau membisu

Rindu itu 5 huruf hasil aku berusaha mengabaikanmu.
karna setiap kali aku berusaha mengabaikanmu, aku semakin disiksa oleh rasa yang bernama rindu
semakin keras aku tak perduli, dia semakin mencekik sampai membuatku menangis

Rindu itu 5 huruf hasil jarak yang memisahkan kau dan aku
dan parahnya lagi jarak itu bernama dia.

Rindu itu 5 huruf hasil aku menyayangimu lebih dari kamu menyayangiku.

Dan rindu itu 5 huruf hasil dari adanya seseorang bernama kamu.

Sabtu, 28 Juli 2012

Tanda tanya (keping kelima belas)

Jarak itu tak terlalu jauh untukmu kembali kesitu. ke kota itu. 
Sebenarnya kau kembali untuk siapa?
untukku jugakah?
Apakah aku harus dengan lugas bertanya?
Kau membuat kupu-kupu dalam perutku kembali terbangun.
Dan mulai berputar-putar.
ohh....siaaalllll

Biasa, sungguh. (keping ke empat belas)

Semua mulai terasa biasa. apakah doaku mulai terealisasikan?
mungkin iya. Mungkin juga lebih baik dari doa yang kupinta.
Perasaan ini sudah hampir mencapai ambang batas.
Titik akumulasi rasa sakit terabaikan yang sedikit demi sedikit menjelma menjadi rasa biasa.
Muak? mungkin juga.
Abaikan semua. Abaikan...
Saat bahagiamu bukan dukaku lagi saat itulah aku terlepas dari kurungan rasa cemburu 

Hujan, tolong titip ceritaku. (keping ketiga belas)




Ingatkah kamu berapa kali kita melewati hujan bersama?

Diawal kisah kita itu kita melewatinya dengan manis.
Ngebut diatas motor menuju rumah.
Aku mengencangkan pelukanku dipinggangmu.
Kamu ngebut dengan brutal berkejaran dengan hujan.
Dengan menggenggam gelas berisi teh hangat kamu  bertanya, “Taukah kamu bau khas tanah yang terkena hujan ini bernama apa?”
Aku menggeleng.
“Ini petrichor.”

Di seperempat kisah kita itu kita melewati dengan haru. Terutama untukku.
Masih ingatkah kamu malam itu dengan hujan yang luar biasa hebat kamu datang kerumahku?
Dengan bagian bawah celana yang basah terkena hujan. Karna jas hujanmu tak mampu menahan hebatnya air yang tumpah dari langit.
Dengan muka cemas aku menyambutmu dipintu.
“Kenapa kamu maksain diri kesini? Kalau kamu sakit gimana?”
Dengan kesal kamu menjawab, ”Aku khawatir sama kamu. Denger suara kamu ditelpon tadi aku nggak tega. Apalagi kamu dirumah sendiri.”
Seketika air mataku menetes.
Haru..ya, seperti itulah perasaanku saat itu.
Dan itu membuatku semakin menyayangimu.

Di pertengahan kisah kita itu kita sempat menjalaninya dengan diam.
Masih ingatkah kamu ketika sore itu kamu mengantarkanku ujian?
Dengan wajah yang masih mengantuk kamu datang kerumahku.
Agak kurang iklas memang saat itu kamu mengantarkanku.
Kamu bilang aku mengganggu jadwal main bolamu.
Tapi walau begitu kamu tetap mengantarku.
Sepanjang perjalanan kita diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aku cukup tau adatmu. Seorang yang moody.
Dan kalo sudah seperti itu pilihan terbaikku adalah diam.
Sore yang tadinya cerah itu berubah menjadi kelabu. Mendung dan hujan.
“Kamu dimana?” itu isi pesan yang kukirimkan keponselmu.
“Aku dimasjid. Hujannya deres. Tunggu reda sebentar ya.”
Bersama teman-teman aku turun kebawah menunggu hujan reda.
Kamu menelponku, mengajakku pulang.
Aku sedikit menahan karna hujan.
Kamu memaksa. Kita berdebat.
Aku menyerah kalah. Kamu datang. Kita pulang.

Dalam satu jas hujan, kita berdua menerjang air yang ditumpahkam dari langit.
Namun sayang aku mulai tak tahan.
“Bisa kita berhenti sebentar? Aku mulai basah dan kedinginan.”
Dalam diam kamu membelokan motormu mencari tempat berteduh.
Aku sekilas melirikmu. Kau masih diam.
Aku berusaha mengajakmu bicara. Kamu menjawab dengan anggukan dan gelengan. Serta ucapan seperlunya.
Aku mulai tak tahan dengan keadaan. Persetan dengan hujan. Akupun mengajakmu pulang.
Kamu melepaskan jaketmu dan memakaikannya padaku. Masih dalam diam.

Di tiga perempat kisah kita itu kita melewatinya dalam jarak.
Kau dikota itu, aku dikota ini.
Masih berusaha saling setia, saling menghibur, saling menyayangi.
Jika hujan datang dikotamu kamu akan bertanya padaku,”Disana hujan nggak? Sini hujan lho. Jadi tenang  gitu suasananya.”

Dan di akhir kisah kita itu kita melewatinya dengan perpisahan.
Dalam hujan yang menghalangi pertemuan kita hari itu aku tak sempat membaca pertanda.
Aku tetap menunggumu diruang tamu dengan mata sembab.
Hampir larut malam kau datang, masih bersama dengan hujan.
Kita tersenyum kaku dan mulai berbicara.
“Apa maumu sebenarnya?”
“Lebih baik kita selesai saja. Maaf aku jenuh.”
“Apa bukan karna hatimu sudah tidak pada tempatnya?”
Kau mengangguk. Aku terluka.
“Kenapa harus sejahat itu?”
“Akan lebih jahat jika kita masih melanjutkannya.”
Aku masih menawar. Mengajukan beberapa kemungkinan. Kamu menolaknya. Keputusanmu bulat.
Seperti biasa aku menerimanya. Tentu saja dengan berat. Aku bisa apa? Coba kamu yang diposisiku?
Lantas kaupun pulang. Menutup skenario kisah kita. Bersama hujan yang sampai hari ini belum lagi datang.