Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Rabu, 26 Desember 2012

beberapa hal yang kusebut obat (keping dua delapan)


Aku menyukai menulis. Entah mulai kapan. Sama seperti dulu aku menyukai musik. Piano. Dulu aku pandai memainkannya. Namun selepas seragam putih merah, aku mulai lebih menyukai bermain hati daripada piano. Aku mendapat menstuasi pertamaku di tahun terakhir sekolah dasar. Jadi wajar saat masuk sekolah menengah pertama aku mulai menyukai lawan jenis. Puber pertama sebutannya. 

Sekarang ini aku masih berusaha mengingat mulai kapan aku menyukai menulis. Sepertinya semua dimulai saat orang tuaku menganggap aku masih kecil. Padahal aku sudah mulai mengenal apa itu pacaran. Aku mulai menulis apapun yang terjadi disebuah buku yang biasanya kita sebut dengan diary. Orang tuaku termasuk kaku dalam hal komunikasi. Mereka menganggap kami,dan aku khususnya masih terlalu kecil untuk protes ini itu. Percaya atau tidak, aku mulai terbuka dengan ibuku saat aku kelas 1 SMA. Dilanjut dengan mulai berani berpendapat didepan bapak saat masuk kuliah.

Aku bukannya tak mempunyai sahabat. Aku hanya orang yang menganggap ada hal-hal yang boleh dibagi dan ada hal yang seharusnya kau simpan sendiri. Dan saat aku merasa mulai “meluber” menulis adalah  pelarianku. Aku menyebutnya obat.

Ini bukan obat satu-satunya yang aku pakai untuk “sembuh”. Obatku yang lainnya adalah doa. Pernahkah kalian berbincang dengan Tuhan? Bukan hanya meminta sesuatu dan menuntut ini itu. Tapi benar2 bercerita. Sebenarnya dengan sifat Tuhan yang Maha tau pun tanpa bercerita Tuhan sudah pasti tau apa yang terjadi. Tapi Tuhan suka terhadap hambanya yang mendekat dan butuh pada-Nya.

Kebiasaan itu telah lama aku lakukan dan makin sering aku lakukan dewasa ini. Aku masih belum terlalu terbuka dengan orang lain. Dan memang aku lebih suka bercerita kepada Tuhan. Jawaban Tuhan tidak selalu datang saat itu juga, tapi selalu tepat waktu. Tidak pernah terlambat. Dan disini waktunyalah yang berlaku.
Obatku yang lainnya adalah melihat pantai. Aku suka memandang garis batas pantai dengan langit. Menurutku itu seperti memandang jalan hidup. Kita tau, masa depan itu sifatnya misteri. Belum terjadi. Tapi minimal kita harus mempunyai pandangan apa yang ingin kita miliki atau lakukan besok. Laut itu tak terbatas. Mata kitalah yang membatasi. Dan batasnya sampai ke garis putih antara air laut dan langit.

Aku beri tau lagi yang lainnya. Obatku kali ini memiliki dua warna. Dimana warna yang pertama yaitu dapat berkumpul bersama orang-orang yang aku sayang. Dan warna yang kedua adalah memperhatikan orang. Iya, terkadang aku butuh membandingkan diriku untuk bersyukur atau untuk iri. Iri pada orang-orang yang masih bisa tertawa bahkan dikeadaan yang menurutku akupun mungkin tak bisa tertawa seperti mereka. Mereka seperti menikmati tanpa mengeluh.

Jadi bisa aku sebutkan obat apa saja yang aku butuhkan. Yaitu: mengerjakan yang aku suka, mendekatkan diri pada Tuhan, menyatu dengan alam, berkumpul bersama orang yang kita sayang, dan bersyukur Jadi, apa obatmu?

Minggu, 23 Desember 2012

Surat untukku.. #postcardfiction

Senin, 09:30 P.M

Teruntuk diriku yang biasa kupanggil Kamu.
Di hati dan fikiran yang aku tau agak kacau.


Kamu pasti tau alasan kenapa aku ingin menegurmu? Ya. Mulai ada yang berubah lagi dari dirimu. Kenapa kamu? Mulai banyak mengeluh dan memprotes ini itu. Lupa bahwa semuanya telah tertulis rapi dilembar-demi lembar lauhul mahfus? Lupa kalo terlalu banyak mengeluh itu artinya kufur nikmat dan malah menjauhkan rejeki? Lupa kalau mengeluh itu membuat kamu kelihatan jelek? Mana ada lelaki yang mau dengan wanita yang hobinya mengeluh?

Sebenarnya apa yang kamu keluhkan? Tentang masa depan yang kamu belum tau mau jadi apa? Atau tentang hati yang tak tau pada akhirnya akan berlabuh dimana? Tentang memilih ini dan itu? Atau tentang apa lagi?

Kamu, bolehkah aku bertanya beberapa hal? Sudahkah kau berusaha? Berdoa? Meminta restu orang tua? Menolong orang lain? Beramal? Berbuat baik? Memaafkan dirimu sendiri dan orang lain? Menjaga dirimu sendiri dari perbuatan yang dibenci Tuhan?
Sudahkah kau bersyukur untuk nafas yang masih kau hirup gratis dan lancar? Untuk senyum yang hanya tinggal menarik pipimu tapi berhasil membuatmu terlihat lebih cantik? Sudahkah itu? Kalau jawabanmu lebih banyak belum untuk hari, kamu benar-benar keterlaluan.

Kita sering membahas ini. Setiap kali aku merasa kamu berubah pasti aku selalu mengingatkannya bukan? Kamu pasti mulai bosan. Jadi, kenapa kamu masih saja berkeras untuk melawan keadaan yang membuatmu justru menjadi tegang dan tidak nyaman? Kembalilah ke fitrahmu sebagai manusia. Bukankah semua kejadian ini itulah yang justru membuatmu masih pantas disebut manusia? Silahkan berteriak, menangis. Lalu kembalilah menjadi baik.


Pelukku untuk aku yang merindukan diriku sendiri
 Yang kusebut kamu.
\

Sabtu, 15 Desember 2012

Hello or Goodbye?

"Beberapa hari lagi aku pulang."
"Berapa lama?"
"Agak lama."

Aku berpikir beberapa menit sebelum membalas lagi SMSmu. Kenangan tentang kita baru saja melintas. Masih beranikah aku bertemu denganmu? Aku sejauh ini membangun tembokku sendiri sekuat mungkin. Apa harus kuhancurkan lagi?

"Yasudah. Ati-ati ya. aku tunggu :) "
SENT...

Bagian paling menyedihkan dari sebuah pertemuan adalah saat kau tau tetap akan ada perpisahan setelahnya. seperti menyebar kenangan diberbagai tempat. Kemudian disuatu waktu memungutinya kembali sendirian.

Lalu kuputuskan bertemu denganmu. Dulu aku bisa membangun tembokku. Aku berharap besok pun begitu.

Dan sepertinya kali ini aku lebih berhasil. Pengalaman memang guru yang luar biasa. Dia membuat kita menangis terlebih dahulu lalu membuat tertawa. Begitu pula denganku. Dulu aku akupun begitu. Semirip bayi saat  pertama kau tinggalkan. Merangkak, berdiri, berjalan pelan, terjatuh. Berdiri lagi dengan memegang tepian meja, berjalan, sesekali terjatuh. Begitupun seterusnya.

Aku tau rasanya ditinggalkan. Kamu pernah meninggalkanku bukan? Tapi aku belum pernah sekalipun meninggalkanmu. Jadi, apa kamu tau rasanya ditinggalkan? Atau kehilangan? Aku takut kamu menjadi manja. Ku keraskan hatiku. Menguatkannya. Mematikan rasanya sampai rasanya seperti mati. Namun...

Tanganmu menggenggam tanganku. Mulut kita membisu. Entah apa yang ada di pikiran kita masing-masing. Aku mencoba tak mau tau.  Waktu semakin berlalu. Kita berdua tau ini tak akan lama lagi. Waktu kita hampir habis. Entah tamat atau akan ada episode baru. Aku menghela nafas dalam. Kau menoleh. Memperhatikanku. Aku menoleh. Memperhatikan kita. Tanganmu masih sehangat dulu. rasa nyaman ini masih seperti yang dulu. Hati ini pun masih menyimpan namamu. Aku menunduk. Agak lama. Menimbang ini itu. Menyakinkan diri bahwa aku gagal lagi. Lalu berkata....

"Bisakah kau jangan pergi lagi? Ya, aku pernah takut datangnya hari ini. Aku takut terlambat lagi untuk mengakui. Aku mencintaimu."

Senin, 03 Desember 2012

Aku - Kamu ( keping dua tujuh)

Dulu
Aku kamu
Terburu buru
Ingin menjadi satu

Lalu
Aku kamu
Berharu biru
Melewati rindu
Berusaha menawar waktu

Setelah itu
Aku kamu
Ragu-ragu
Berpikir masihkah ingin bersatu

Namun kamu
Yang bukan aku
Memundurkan langkah satu-demi satu
Tanpa memberi tau

Aku
Yang bukan kamu
Hanya bisa membisu
Tanpa mempersiapkan diri terlebih dulu
Tertipu