Jarak itu tak terlalu jauh untukmu kembali kesitu. ke kota itu.
Sebenarnya kau kembali untuk siapa?
untukku jugakah?
Apakah aku harus dengan lugas bertanya?
Kau membuat kupu-kupu dalam perutku kembali terbangun.
Dan mulai berputar-putar.
ohh....siaaalllll
Laman
Mari Tumpahkan sebelum meluber
Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang
:)
Sabtu, 28 Juli 2012
Biasa, sungguh. (keping ke empat belas)
Semua mulai terasa biasa. apakah doaku mulai terealisasikan?
mungkin iya. Mungkin juga lebih baik dari doa yang kupinta.
Perasaan ini sudah hampir mencapai ambang batas.
Titik akumulasi rasa sakit terabaikan yang sedikit demi sedikit menjelma menjadi rasa biasa.
Muak? mungkin juga.
Abaikan semua. Abaikan...
Saat bahagiamu bukan dukaku lagi saat itulah aku terlepas dari kurungan rasa cemburu
mungkin iya. Mungkin juga lebih baik dari doa yang kupinta.
Perasaan ini sudah hampir mencapai ambang batas.
Titik akumulasi rasa sakit terabaikan yang sedikit demi sedikit menjelma menjadi rasa biasa.
Muak? mungkin juga.
Abaikan semua. Abaikan...
Saat bahagiamu bukan dukaku lagi saat itulah aku terlepas dari kurungan rasa cemburu
Hujan, tolong titip ceritaku. (keping ketiga belas)
Ingatkah
kamu berapa kali kita melewati hujan bersama?
Diawal kisah
kita itu kita melewatinya dengan manis.
Ngebut diatas
motor menuju rumah.
Aku mengencangkan
pelukanku dipinggangmu.
Kamu ngebut
dengan brutal berkejaran dengan hujan.
Dengan menggenggam
gelas berisi teh hangat kamu bertanya, “Taukah
kamu bau khas tanah yang terkena hujan ini bernama apa?”
Aku menggeleng.
“Ini petrichor.”
Di seperempat
kisah kita itu kita melewati dengan haru. Terutama untukku.
Masih
ingatkah kamu malam itu dengan hujan yang luar biasa hebat kamu datang
kerumahku?
Dengan bagian
bawah celana yang basah terkena hujan. Karna jas hujanmu tak mampu menahan
hebatnya air yang tumpah dari langit.
Dengan muka
cemas aku menyambutmu dipintu.
“Kenapa kamu
maksain diri kesini? Kalau kamu sakit gimana?”
Dengan kesal
kamu menjawab, ”Aku khawatir sama kamu. Denger suara kamu ditelpon tadi aku
nggak tega. Apalagi kamu dirumah sendiri.”
Seketika
air mataku menetes.
Haru..ya,
seperti itulah perasaanku saat itu.
Dan itu
membuatku semakin menyayangimu.
Di pertengahan
kisah kita itu kita sempat menjalaninya dengan diam.
Masih ingatkah
kamu ketika sore itu kamu mengantarkanku ujian?
Dengan wajah
yang masih mengantuk kamu datang kerumahku.
Agak kurang
iklas memang saat itu kamu mengantarkanku.
Kamu bilang
aku mengganggu jadwal main bolamu.
Tapi walau
begitu kamu tetap mengantarku.
Sepanjang
perjalanan kita diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aku cukup
tau adatmu. Seorang yang moody.
Dan kalo
sudah seperti itu pilihan terbaikku adalah diam.
Sore yang
tadinya cerah itu berubah menjadi kelabu. Mendung dan hujan.
“Kamu
dimana?” itu isi pesan yang kukirimkan keponselmu.
“Aku
dimasjid. Hujannya deres. Tunggu reda sebentar ya.”
Bersama teman-teman
aku turun kebawah menunggu hujan reda.
Kamu menelponku,
mengajakku pulang.
Aku sedikit
menahan karna hujan.
Kamu memaksa.
Kita berdebat.
Aku menyerah
kalah. Kamu datang. Kita pulang.
Dalam
satu jas hujan, kita berdua menerjang air yang ditumpahkam dari langit.
Namun sayang
aku mulai tak tahan.
“Bisa
kita berhenti sebentar? Aku mulai basah dan kedinginan.”
Dalam diam
kamu membelokan motormu mencari tempat berteduh.
Aku sekilas
melirikmu. Kau masih diam.
Aku berusaha
mengajakmu bicara. Kamu menjawab dengan anggukan dan gelengan. Serta ucapan
seperlunya.
Aku mulai
tak tahan dengan keadaan. Persetan dengan hujan. Akupun mengajakmu pulang.
Kamu melepaskan
jaketmu dan memakaikannya padaku. Masih dalam diam.
Di tiga perempat kisah kita itu kita melewatinya dalam jarak.
Kau dikota
itu, aku dikota ini.
Masih berusaha
saling setia, saling menghibur, saling menyayangi.
Jika hujan
datang dikotamu kamu akan bertanya padaku,”Disana hujan nggak? Sini hujan lho. Jadi
tenang gitu suasananya.”
Dan di
akhir kisah kita itu kita melewatinya dengan perpisahan.
Dalam hujan
yang menghalangi pertemuan kita hari itu aku tak sempat membaca pertanda.
Aku tetap
menunggumu diruang tamu dengan mata sembab.
Hampir larut
malam kau datang, masih bersama dengan hujan.
Kita tersenyum
kaku dan mulai berbicara.
“Apa maumu
sebenarnya?”
“Lebih
baik kita selesai saja. Maaf aku jenuh.”
“Apa
bukan karna hatimu sudah tidak pada tempatnya?”
Kau mengangguk.
Aku terluka.
“Kenapa
harus sejahat itu?”
“Akan lebih
jahat jika kita masih melanjutkannya.”
Aku masih
menawar. Mengajukan beberapa kemungkinan. Kamu menolaknya. Keputusanmu bulat.
Seperti biasa
aku menerimanya. Tentu saja dengan berat. Aku bisa apa? Coba kamu yang diposisiku?
Lantas kaupun
pulang. Menutup skenario kisah kita. Bersama hujan yang sampai hari ini belum
lagi datang.
Sabtu, 21 Juli 2012
Ini gila!! tapi memang terjadi.. (keping dua belas)
* Pacar orang mungkin adalah jodoh kita yang tertunda.
* Pacar kita mungkin adalah jodoh orang yang sedang kita pinjam.
* mantan adalah jodoh kita yang sedang dipinjam orang dan akan dikembalikan lagi pada waktunya.
* Gebetan adalah orang yang menyita waktu, hati dan pikiran tanpa status yang jelas.
* musuh adalah orang yang paling ingin tau apa yang terjadi dengan kita dan yang kita lakukan, sesering pacar.
* HTS adalah racun yang membuatmu mati pada waktunya. mematikan sel-sel rasa malu dan akhirnya berubah menjadi sesal.
Langganan:
Komentar (Atom)