Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Sabtu, 29 September 2012

Coba kamu dengarkan... (keping delapan belas)

Seperti yang dulu pernah aku katakan, aku menunggumu disini. Masih. Sampai hari ini.
Entah dengan besok. Besoknya lagi. Atau besoknya lagi.

Kamu tidak akan terlalu sedih bukan saat akhirnya tak menemukanku lagi disini untuk menunggumu?
Sama tidak sedihnya saat kamu memutuskan untuk pergi.
Waktu itu aku pernah memberitahumu, "Mungkin saat kamu kembali menemuiku disini justru aku yang telah pergi."

Haaah....susah sekali melepasmu sendirian sampai hari ini. Sekalipun aku tau kamu tak terlalu kesepian. Pun tak terlalu membutuhkanku.
Tapi bagaimana bisa,tiap kali aku berhasil mempercepat langkahku kamu datang memanggil.
Suaramu saja langsung membuat hatiku lemas. Bukan hanya kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut. Mungkin juga lumba-lumba yang melompat salto.
Apalagi melihat mata tampanmu. 

Tapi tetap akan ada waktu dimana aku yang harus bergantian pergi. Atau tak begitu perduli. Beku hati, mati rasa, biasa saja.
Entah apakah Tuhan akan mempersatukan kita kembali disebuah episode lagi atau tidak.
Sejauh apapun kamu, aku tau kamu masih suka memintaku singgah di mimpimu atau disekelebat fikiranmu. karna akupun begitu..

Salamku untuk wanita baru dihatimu. Tolong bilang ke dia, suatu hari, tak menutup kemungkinan kamu akan mencariku...
Salamku untuknya yang telah menggeser posisiku.

Kamis, 13 September 2012

karna Tuhan lebih tau... (keping tujuh belas)

Setiap orang pasti tak pernah ingin kecewa. manusiawi,sangat.
Namun saat seseorang mengecawakanmu, salahkah untuk marah dan berniat membalasnya? sebagai manusia dengan ego aku berkata, "itu tidak salah."
Aku pernah kecewa, pun kamu. Rasanya? Sama. Sakit. Yang membedakan hanya versi hiperbola kita masing-masing.
Aku pernah berniat membalasnya. Sampai hari inipun kadang masih. Tapi nalarku menahan,membantah,menolak. 
nalarku bertanya "untuk apa?"
"biar dia tau rasa sakitku"
"lalu?"
"udah."
"yakin sembuh kalo udah bales dendam?"
"mungkin."
"kamu terlihat tak yakin. untuk apa kau lakukan kalo kamu sendiri tak yakin bisa membalasnya?"
"aku tak tau."
"bukankah dia sudah menderita dengan ceritanya sendiri?
"kenapa bukan aku yang membalas? kenapa harus lewat orang lain?"
"intinya sama kan?dia belum bahagia."
"tapi...."
"egomu ikut main disini. apa bedanya siapa yang membalas kalo hasilnya sama atau bahkan lebih?"
"ya."
"anggap saja Tuhan terlalu menyayangimu sampai-sampai kau hanya perlu duduk dan melihat dia menerinma balasannya. Tuhan tidak ingin kau mengotori hatimu sendiri dengan dendam."
aku terdiam. Nurani yang menang.

Sejujurnyapun aku tak terlalu bahagia melihatmu menderita. meskipun kau pelaku utama penyebab lukaku.
Ya, ini memang ego. Aku harus mengalahkan egoku dengan senjata bernama iklas.
Dan aku butuh waktu.. 
Mungkin dulu,secara tak sadar akulah penyebab kekecawaan seseorang namun kini aku telah menerima bagianku.  Begitupun kamu dan semua orang pada akhirnya.