Setiap orang pasti tak pernah ingin kecewa. manusiawi,sangat.
Namun saat seseorang mengecawakanmu, salahkah untuk marah dan berniat membalasnya? sebagai manusia dengan ego aku berkata, "itu tidak salah."
Aku pernah kecewa, pun kamu. Rasanya? Sama. Sakit. Yang membedakan hanya versi hiperbola kita masing-masing.
Aku pernah berniat membalasnya. Sampai hari inipun kadang masih. Tapi nalarku menahan,membantah,menolak.
nalarku bertanya "untuk apa?"
"biar dia tau rasa sakitku"
"lalu?"
"udah."
"yakin sembuh kalo udah bales dendam?"
"mungkin."
"kamu terlihat tak yakin. untuk apa kau lakukan kalo kamu sendiri tak yakin bisa membalasnya?"
"aku tak tau."
"bukankah dia sudah menderita dengan ceritanya sendiri?
"kenapa bukan aku yang membalas? kenapa harus lewat orang lain?"
"intinya sama kan?dia belum bahagia."
"tapi...."
"egomu ikut main disini. apa bedanya siapa yang membalas kalo hasilnya sama atau bahkan lebih?"
"ya."
"anggap saja Tuhan terlalu menyayangimu sampai-sampai kau hanya perlu duduk dan melihat dia menerinma balasannya. Tuhan tidak ingin kau mengotori hatimu sendiri dengan dendam."
aku terdiam. Nurani yang menang.
Sejujurnyapun aku tak terlalu bahagia melihatmu menderita. meskipun kau pelaku utama penyebab lukaku.
Ya, ini memang ego. Aku harus mengalahkan egoku dengan senjata bernama iklas.
Dan aku butuh waktu..
Mungkin dulu,secara tak sadar akulah penyebab kekecawaan seseorang namun kini aku telah menerima bagianku. Begitupun kamu dan semua orang pada akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar