Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Rabu, 30 Mei 2012

Secuil Titik Balik (keping ketujuh)


“Saat aku tahu dia sudah tak mencintaiku,seketika itu juga aku memilih untuk mencintai diriku sendiri. Dan itu membantuku untuk bangkit. Seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik-baik saja.”

Bertemu dengan orang yang tepat, ditempat yang tepat dan waktu yang tepat itu selalu mendatangkan sebuah manfaat. Dia, wanita yang dulu lebih rapuh dariku membuatku tersadar akan adanya titik balik. Dimana semua yang telah kau lakukan mencapai batas maksimal dan akhirnya kembali kepadamu lagi. Aku lupa awalnya kami berbicang tentang apa. Dia sepertinya tau sekali kalo fikiranku sedang tidak berada ditempatnya. Dengan cerdas dia menebak, dan tepat. Selalu begitu. Hampir tak ada yang bisa aku sembunyikan darinya. Untuk beberapa hal kami ini terlalu mirip. Dan aku nyaman bersamanya.
“kamu lelah?”
“belum.”
“bohong. Lelaki macam apa dia sampai bikin kamu kayak gini?”
“dia seperti sebuah buku yang mudah dibaca, tapi sulit dipahami.”
“tipemu?”
“coba tebak?”
“seseorang yang membuatmu seperti ini pasti luar biasa. Atau kamu yang terlalu rapuh?”
“pernah melihatku lebih parah dari ini bukan? Tak perlu kuatir. Aku tak serapuh kelihatanya.”
“kapok?”
“jangan bercanda. Berapa lama kamu kenal aku?”
“haha... dari sepuluh kesempatan yang diberi,pasti ada satu yang tepat sekalipun kamu ngawur ngejawabnya.”
“kalo salah semua?”
“ berarti kamu harus minta seratus kesempatan,biar dapet sepuluh kemungkinan yang benar.”

Aku diam. Dia menyeruput minumanya. Kami terdiam.

“aku harus gimana?”
“bangun. Hatimu bilang apa?”
“bangun.”
“yaudah bangun. Mau nyiksa diri? Dulu, Saat aku tahu dia sudah tak mencintaiku,seketika itu juga aku memilih untuk mencintai diriku sendiri. Dan itu membantuku untuk bangkit. Seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik-baik saja.”
“Aku sayang dia tapi juga sayang diriku sendiri. Ini terlalu sederhana tapi aku suka.”
“ada saat dimana kamu harus berjalan,berlari lalu berhenti. Bukan karna kamu lelah, tapi karna kamu sudah mencapai garis finish yang tak kamu sadari. Lalu apa lagi? Terus berlari? Jangan menyiksa diri. Kalo capek ya duduk.”

Aku masih terdiam. Dia melanjutkan “ijinkan hatimu bernafas dulu. Udah kirim surat ke Tuhan?”
“udah.”
“yaudah tunggu jawabanya. Udah belajar sabarkan kemarin?”
“Huum.”
“jodohmu itu orang yang menjagamu, menghormatimu dan menyayangimu. Jika dia tidak punya salah satu dari kategori ini maka lupakan. Buka hatimu saat kamu siap. Lebih peka sama titik balik. Merasa udah melakukan yang terbaik kemaren?”
“kayaknya udah. Buktinya sampai terakhirpun aku belum nyerah. Sekarangpun juga. Cuma memang dengan cara yang beda. Cuma bisa ngejaga dia lewat doa dan perhatian kecil. Sesayang apapun aku ke dia, dia udah bukan apa-apaku lagi. Dan aku dosa kalo sampai bikin dia nggak nyaman.”
“doain aja dia bahagia. Episodemu saat ini sudah selesaikan? Siap-siap bikin episode yang baru, entah dengan actor lama atau actor baru. Bisa kog. Gak ada yang maksa harus cepet. Kalian gak lagi maen siapa cepat dapet pacar baru kan?”

Kami tertawa...

Terkadang aku berpikir aku bukan tipe orang yang benar-benar bisa sedih. Selalu saja ada yang bisa aku tertawakan sekalipun dalam lukaku, sekalipun menertawakan diriku sendiri juga. Dan aku masih menolak beberapa ulur tangan yang mencoba menambal lukaku dengan hati mereka. Bukan sok kuat. Aku hanya tak mau terlalu kejam pada orang lain. Kejam bukan saat kamu bersama orang baru tapi hatimu masih bersama orang lama. Aku tak mau diperlakukan seperti itu juga.

Ada banyak hal konyol yang dimaklumi saat kamu jatuh cinta. Setelah kamu kembali lagi ke alam sadar, kamu tau hal konyol itu mirip ketololan. Sampai hari ini mungkin aku masih konyol, karna aku masih dipenuhi rasa cinta. Entah bagaimana dengan dia yang aku cintai ini. Dia menikmati hidupnya. Baik-baik saja disana. Dengan hatinya yang tak terdefinisi. Dengan hatinya yang entah kali ini untuk siapa. Aku akan menikmati rasa ini sampai aku harus kembali lagi ke alam sadar. Tak tau kapan. Screen saver nootebook ku menampilkan slide show fotonya. Dalam hati aku berkata “ya Tuhan, aku masih menyayangi orang ini. Entah sampai kapan. Sadarkah dia?”

Rabu, 23 Mei 2012

Ini (lumayan) Logis! (keping keenam)


Apa yang kamu takutkan lagi setelah berpisah dan kehilangan? Bukankah dua hal ini yang paling sering membuat orang takut? Lalu sekali lagi, apa yang kamu takutkan lagi setelah berpisah dan kehilangan? perlu diingat, kamu tak akan kehilangan lagi sesuatu yang sudah tak kamu miliki. Cukup masuk akal bukan untuk menghilangkan rasa takutmu?

Bagian terpatah dari patah hati (keping kelima)


Ini tentangku. Ya, bukan tentangmu atau tentang kalian. Rasaku. Bukan rasamu atau rasa kalian. Jadi terserah aku. Bukan terserahmu atau terserah kalian. Sekali lagi ini tentangku.
Cinta itu irrasional,abstrak. Sampai sedewasa inipun aku masih belum paham apa definisi cinta itu. Dosenku pernah bilang “Love is freedom. Karna kebebasan inilah aku bebas menentukan pilihan, dan aku memilihmu.” Ada yang bilang lagi “Cinta itu memberi tak harap kembali.” “Cinta itu ikut berbahagia saat orang yang kamu cintai bahagia, sekalipun bukan denganmu.” Lalu “jika kamu mencintai seseorang,bebaskanlah. Jika dia milikmu dia akan kembali, jika tidak biarkan dia pergi.” Dan masih banyak ungkapan yang lain. Aku berusaha menerima semua dengan logikaku. Menyetujuinya, sepakat dengan mereka tentang arti cinta. Aku menjalankannya dengan baik.
Tapi agak sulit ketika tiba dalam fase patah hati. Atau lebih parahnya hatimu dipatahkan. Apa yang aku fikirkan pertama kali? “Sakit.” Luka yang tak terlihat itu memang lebih sakit dari luka yang terlihat. Aku mencoba mengobatinya dari hari kehari. Mencoba dan mencoba. Aku abaikan rasa malasku untuk sembuh walau aku masih ingin menikmatinya. Aku abaikan keinginanku untuk menyalahkan orang yang menyakitiku. Aku tahan tanganku untuk menerima belas kasihan orang lain. Aku enyahkan bisikan untuk menumpuk luka ini dengan luka baru. Mungkin terdengar angkuh. Tapi ini lukaku, aku tau apa yang aku lakukan. Aku tak ingin menggunakan cara licik yang akhirnya membuat Tuhan marah dan balik menghukumku.
Ketika kamu mematahkan hati orang dengan ketika hatimu terpatahkan itu akan beda rasanya. Aku tidak akan membahas ini. Rasa kita masing-masing akan berbeda. Dan tak perlulah kita berdebat tentang perbedaan. Namun ketika hatimu terpatahkan pasti terpikir “Dimana salahnya?” atau jika sudah tak ada yang bisa kamu tanyakan kamu akan bilang “tunggulah waktu pembalasanmu.”
Sebagian besar orang yang sedang dipatahkan hatinya pasti senang melihat orang yang menyakitinya akhirnya sakit. Tapi tolong percaya, itu tidak berlaku denganku kali ini. Entahlah, rasa kejamku mulai luntur seiring kedewasaan. Aku sedih melihatnya sedih. Aku sakit melihatnya sakit. Dan aku senang melihatnya senang. Dia orang yang menyakitiku? Iya benar. Atau lebih tepatnya dia orang yang mematahkan hatiku, memaksaku berhenti, dan membiarkanku sendirian sementara dia sibuk menggapai tangan yang lain. Masih haruskah aku perduli? Hatiku berkata “iya”. Karna memang sedikitpun aku tidak merasa bahagia saat melihat dia bersedih. Apapun yang terjadi dengannya memang bukan urusanku lagi, tapi mengapa aku masih perduli? Aku belum menemukan jawabanya sampai hari ini. Mungkin aku menyayangimu dengan berlebih.
Fikirmu kenapa aku mau melepaskanmu? Aku mau melepaskanmu karna aku ingin melihat mu bahagia. Bukankah kamu sendiri yang menginginkan kebebasan? Tapi kenapa kamu masih belum bahagia juga? Jika harusnya aku yang sakit mengapa kamu yang malah bersedih? Tolong jangan membuat pengorbananku sia-sia dengan tetap bersedih. Ini membuatku patah hati dua kali.
Kata mereka ini cinta. Aku tak tau. Yang aku tau aku menyayangimu  sampai hari ini. Tanpa syarat. Tanpa tapi. Tanpa melihat sempurnanya kamu karna aku sadar akupun tak sempurna. Entah sampai kapan. Mari kita lihat.

Senin, 07 Mei 2012

Hujanku, datanglah kau tepat waktu (keping kedua)


Aku menunggu hujan membantuku menyelesaikan keping kedua. Itu sebabnya keping-keping yang lain lebih dulu muncul. Kota yang aku cintai jarang sekali hujan. Beruntung aku sedang berada di kota lain dan beruntung juga di sini hujan.
Ah... hujan. Entah mengapa aku begitu menyukai hujan, tanpa petir. Aku menyukai hujan. Dia selalu datang tepat waktu. Dan dia membantuku menyembunyikan air mataku. Entah itu untuk suka maupun duka.
Hujan itu berkah, iya aku percaya. Jika setelahnya adalah banjir, anggap saja bonus. Dalam banjirpun masih ada beberapa orang yang berbahagia bukan? Karna mereka bisa mencari penghasilan dari sana. Jangan terlalu kejam terhadap mereka dengan mengutuk banjir. Kita pernah bahagia merekapun juga berhak.
Di keping kedua ku aku mulai tak sabar menghitung hari. Dimana aku berusaha menemuimu dan meminta kejelasan. Seperti katamu dulu,wanita memang butuh kejelasan. Kejelasan tentang apayang terjadi dengan kita sebenarnya. Apa maumu. Apa mauku. Aku malu dengan umurku yang sekarang jika kita bersikap seperti anak kecil yang gagal menyelesaikan  masalah kemudian lari. Apapun keputusanya mungkin lebih mendewasanya jika kita membicarakanya. Kamu tau, aku mulai pasrah? Mungkin ini usaha terakhirku. Tidak, tentu saja aku belum menyerah. Kau tau beda pasrah dengan menyerah bukan?  Aku tau tangan Tuhan yang lembut sedang menuntunku mencari jalan. Aku harus tetap sadar akan tanda-tanda yang Ia berikan. Agak sulit membuatku mundur ya? Sama sulitnya dengan memaksamu membagi cerita tentang isi hatimu. Kita memang dua orang yang sama-sama sulit. Kau dengan kesulitanmu, aku dengan kesulitanku. Itu pembedanya.
Memang, dua orang yang terlalu sama itu tidak bisa berdekatan dalam waktu yang lama. Kau terlalu mengerti tentang dia begitu juga sebaliknya. Jika hidup itu belajar, apa lagi yang bisa kau pelajari? Apakah kau sudah mengenal dirimu sendiri? Sebagai teman mungkin menyenangkan memiliki persamaan. Tapi sebagai pasangan? Kau butuh perbedaan. sedikit ombak dalam hubunganmu. Terkadang juga badai. Seperti kita sekarang ini. Menunggu tenggelam kalah atau menunggu badai reda dan kita masih bertahan dengan puing-puing kapal yang masih tersisa.
Fakta saat aku bilang aku takut kehilanganmu. Bohong jika aku bilang aku tak memikirkanmu. Fakta jika aku bilang aku masih ingin kita mencoba memperbaiki. Bohong jika aku bilang aku tak berat melepaskanmu. Kau boleh memilih percaya fakta atau kebohonganku.
Hujan itu waktu yang baik untuk berdoa. Kapanpun sebenarnya juga baik asal kau yakin akan doamu. Tuhan masih tetap maha mendengar dikala hujan ataupun panas. Saat berdoa aku sering membayangkan Tuhan membelai rambutku dan tersenyum padaku. Bagaimanapun Tuhan suka mendengar  hambanya berdoa. Dia suka melihat hamba-hambanya meminta, memohon. Bahkan Tuhan bisa marah jika hambanya berhenti meminta. Aku terkadang berkata kepada Tuhan, “Tuhan, permintaanku masih tetap sama. Aku masih ingin bersama dia. Bisa kau kembalikan dia padaku? Aku tau dia milikmu. Tapi masih bolehkan kami belajar bersama? Aku janji akan belajar dengan baik. Sebisanya kami akan saling menjaga. Terimakasih.”
Jika kau fikir kau telah pergi, aku akan mencoba memintamu kembali. Bukan menahanmu, hanya memintamu. Aku bukan seseorang yang malu membuka kembali buku lamaku. Jika aku masih ingin melanjutkannya mengapa tidak? Aku percaya semua orang ditakdirkan berbeda. Mendapatkan orang yang sama sepertimu itu hampir tidak mungkin. Jika ruang dihatiku isinya masih penuh denganmu untuk apa aku mencari hati baru dan mencoba menumpuknya? Menyakiti hati baru  untuk membalut luka yang belum hilang itu jahat sekali.
Hujan ini turun semakin deras. Aku merindukanmu sederas ini...

Selasa, 01 Mei 2012

Get from Plastic Heaven (keping ke empat)

Hari ini dengan seorang teman aku memasuki tempat favoritku. Toko buku. Memang benar disana aku biasanya menghabiskan waktu. Kami berpisah dideretan kategori adult. Dia berjalan menuju barisan komik. Aku tertarik pada sebuah buku yang sempat aku pegang beberapa bulan yang lalu. Dan kali ini entah mengapa aku lebih beruntung. Dia tak berbalut plastik pengaman sehingga aku bebas membacanya.

Takdir, selalu begitu. Aku tak senggaja membuka sebuah barisan kata seperti ini:

Tidak enak tapi suka,
Suka tapi tidak ketagihan,
Tidak ketagihan tapi kangen,
Kangen tapi tidak ingin,
Tidak ingin tapi mau merasakan,
Merasakan tapi tidak enak,
Tidak enak tapi suka.
Itu aku ke kamu...SH*T.

Enak tapi tidak suka,
Tidak suka tapi ketagihan,
Ketagihan tapi tidak kangen,
Tidak kangen tapi ingin,
Ingin tapi tidak mau merasakan,
Tidak mau merasakan tapi enak,
Enak tapi tidak suka.
Itu kamu ke aku... D*MN.

Aku tersenyum membacanya. Teringat kembali tentang kita. Seperti inikah kita? Mungkin...

kotak keduamu, dia dan dia. (keping pertama)



Aku tak pernah tau apa rencana Tuhan, Dia selalu memberi kejutan-kejutan yang luar biasa. Seperti ketika aku menemukan kumpulan cerita masa lalumu disuatu tempat. Hal yang selama ini tak pernah aku tau. Tentang kamu dan hidupmu yang dulu. Dan tiba-tiba nama kalian berputar dikepalaku secara bergantian. Begitu banyak pertanyaan bermunculan. Mereka berkumpul ditenggorokan, dan siap untuk dilontarkan.
Namun, aku memilih untuk bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu. Tuhan, mengapa aku harus tau tentang ini? Dan mengapa harus sekarang disaat suarakupun terlalu jauh untuk memanggilnya?

Menurutku ada tiga kotak yang harus kita punya dalam hidup.
kotak pertama: sesuatu yang bisa kau bagikan kepada orang lain.
kotak kedua: sesuatu yang boleh kau bagikan dan boleh tidak. namun orang lain boleh sedikit mengintipnya.
kotak ketiga: sesuatu yang seharusnya kau simpan sendiri tanpa perlu orang lain tau.
Dan aku tak sengaja mengintip kotak kedua mu. Dimana didalamnya berisi tentang dia dan dia. semua begitu menyentuh. Terlalu dalam bahkan. Dan aku tau sekali bagaimana rasanya berada diposisimu saat itu. Bahkan mungkin sampai sekarang. Agak bersyukur aku bukan tipe orang sepertimu. Aku lebih tegas dengan perasaanku.

Tidak, kau tidak sedang membohongiku. Disaat yang sama akupun sedang berjuang dengan diriku sendiri. Dengan kepingan hatiku yang entah waktu itu tercuri oleh siapa. Kita punya sesuatu yang kita sebut dengan kenangan. kenanganmu seutuhnya milikmu, begitu pula denganku.
entahlah...aku yang terlalu pandai menyimpan kotak ku atau aku yang terlalu lancang mengintip kotakmu? maaf telah mengintip kotakmu. Mungkin memang harus sekarang aku tau. Tuhan telah mengatur semua ini karna Ia tau ini waktu yang tepat. Ia sedang membelaiku untuk lebih dewasa dalam bersikap.

sebelum itu aku bukanlah siapa2.dalam cerita ini aku seperti peran figuran yang mendadak dipilih oleh Tuhan menjadi bintang utama yg mendampingi actor utama. begitupun denganku,kamu hanya goresan pena yg kebetulan tergores dihatiku yg terlalu tipis,lalu membekas. Ini bukan salah siapapun, ini takdir. Aku putuskan untuk tidak bermain dengan masa lalu, biarkan kenangan mereka yang ada, tapi tidak dengan orangnya. Tapi ini berbeda denganmu. Ya, memang sudah sewajarnya kita ini berbeda. Kau tak harus selalu melihatnya kembali. Akupun tidak menyuruhmu hanya memperhatikanku. Tidak. Aku hanya perih melihat perih yang tak kunjung sembuh dimatamu. Siapapun aku untukmu sekarang, kau tetap harus sembuh dari luka itu. Apakah aku menyayangimu? Iya. Tak berlebihan memang, tapi aku yakin lebih dari cukup untuk membuatmu merasa kau memang pantas untuk disayang. Jika kau ijinkan, kau tak perlu ragu lagi untuk menggenggam tanganku yang sedari dulu telah terulur kepadamu. Tapi sebelumnya bisakah kau membantuku menghapus nama mereka dari fikiran dan hatiku? Ya, dia dan dia, wanita yang pernah menyabotase hati, perasaan dan hidupmu. Karna dihatikupun sudah tak ada mereka lagi yang pernah menyabotase bahkan mencuri hatiku dulu.
Ini semua memang kehendak Tuhan. Tangan kanan-Nya menuntunmu kepadaku, dan tangan kiriNya menuntunku kepadamu.Inilah Takdir. pernahkah terpikirkan tentang kita sebelumnya?
Itu pertemuan kita. Lalu bagaimana cerita tentang perpisahan kita nanti? Dan sekali lagi biarkanlah tangan Tuhan kembali yang berperan. Yang aku tau, tugasku adalah menyayangimu. Siapa yang akan menyakitimu itu bukan urusanku, karna itu bukan tugasku.

Luka, ini luka. (keping ketiga)


Semua dimulai saat aku berharap kau bisa menyembuhkan lukaku yang menahun karnanya. Kamu, bukan sosok yang sempurna. Begitupun denganku. Tapi aku selalu mengingat senyum masa mudamu. Ah..anak muda itu telah tumbuh menjadi lelaki dewasa dengan setumpuk kelebihan. Aku tak menyangka bisa menemukanmu kembali setelah hampir separuh usiaku saat ini aku habiskan untuk bermain-main. Tapi begitulah kiranya rencana Tuhan yang tersimpan rapi untuku. Hingga saat yang aku sebut "Luka Waktu" datang.
Luka baru itu memang denyut perihnya lebih sering terasa. kau yg selalu mengajariku cara memaafkan. dan sekarang aku sedang mencoba memaafkanmu. jangan kau lihat lukaku. aku tidak semalang itu. obati saja sendiri lukamu.
kau hanya menatapku. Tapi aku tak berani menatapmu balik. Matamu lebih banyak berbicara daripada bibirmu. Aku tak perlu mendengarnya. Karna aku sudah tau kau terpaksa melukaiku. Tapi kau lupa, disaat yang sama kaupun terluka lebih parah. "Bukan pisau ini yang seharusnya melukai kita". Kemudian aku mulai menangis.

Berjalan menjauh aku mulai menghapus air mataku. Mereka disana menatapku dengan mata bahagia. Tak perlu mereka tunjukan. Karna aku telah melihatnya sekilas. Tidak, aku tidak boleh membuat mereka bahagia mengetahui aku terluka. Tau apa mereka dengan urusan kita? atau kau telah membuka kotak keduamu kepada mereka? tapi apapun itu, mereka seharusnya tak perlu tau tentang luka ini.

Aku mulai tak tahan. Dan aku mulai berlari. Bukan aku yang memulai semua ini. Tangan Tuhanlah yang menuntun kita. Tapi kau memilih menyerah dan melukai kita dengan pisau tajam itu sebelum sempat aku bertanya apa alasanmu. Dan sekarang kita berdua sama-sama terluka. Mungkin lukamu terlalu baru untuk terasa. Tapi suatu saat nanti, akan ada seseorang yang mencoba bertanya dan merabanya. Entah masih akan perih kah? Sekali lagi kau tak perlu melihat lukaku. Obati saja sendiri lukamu.

Ucapan seseorang beberapa tahun yang lalu ternyata benar, kau harus siap kehilangan saat mendapatkan sesuatu. Aku ingat, tapi lebih sering aku abaikan. Dan, terjadilah. Dadaku penuh sesak oleh emosi. Tapi kesadaranku mencekal emosiku. Ini adalah jalan kita. Kita berada di dua ujung jalan yang menyimpang. Dan diujung jalan itu juga kau mulai melukai kita. Mulai menatapku sembari berkata, silahkan pilih jalanmu. Tetap bersamaku dengan pisau tajam ini, atau berbelok arah. Aku mencoba meraih pisau itu, namun gagal. Kau masih tak mengubah pilihanmu dan mulai berjalan. Aku menatap punggungmu dengan nanar. Kau terus berjalan tanpa menungguku yang masih menahan sakit ini. Kemudian aku berbelok arah. Itu mungkin akhir pertemuan kita. Tapi kita tetap tidak tahu apakah jalan yang terpisah ini akan berujung kembali pada jalan yang sama? Pandanganku mulai gelap, aku berhenti berfikir.