Semua dimulai saat aku berharap kau bisa menyembuhkan lukaku yang menahun karnanya. Kamu, bukan sosok yang sempurna. Begitupun denganku. Tapi aku selalu mengingat senyum masa mudamu. Ah..anak muda itu telah tumbuh menjadi lelaki dewasa dengan setumpuk kelebihan. Aku tak menyangka bisa menemukanmu kembali setelah hampir separuh usiaku saat ini aku habiskan untuk bermain-main. Tapi begitulah kiranya rencana Tuhan yang tersimpan rapi untuku. Hingga saat yang aku sebut "Luka Waktu" datang.
Luka baru itu memang denyut perihnya lebih sering terasa.
kau yg selalu mengajariku cara memaafkan. dan sekarang aku sedang
mencoba memaafkanmu. jangan kau lihat lukaku. aku tidak semalang itu.
obati saja sendiri lukamu.
kau hanya menatapku. Tapi aku tak
berani menatapmu balik. Matamu lebih banyak berbicara daripada bibirmu.
Aku tak perlu mendengarnya. Karna aku sudah tau kau terpaksa melukaiku.
Tapi kau lupa, disaat yang sama kaupun terluka lebih parah. "Bukan pisau
ini yang seharusnya melukai kita". Kemudian aku mulai menangis.
Berjalan
menjauh aku mulai menghapus air mataku. Mereka disana menatapku dengan
mata bahagia. Tak perlu mereka tunjukan. Karna aku telah melihatnya
sekilas. Tidak, aku tidak boleh membuat mereka bahagia mengetahui aku
terluka. Tau apa mereka dengan urusan kita? atau kau telah membuka kotak
keduamu kepada mereka? tapi apapun itu, mereka seharusnya tak perlu tau
tentang luka ini.
Aku mulai tak tahan. Dan aku mulai
berlari. Bukan aku yang memulai semua ini. Tangan Tuhanlah yang menuntun
kita. Tapi kau memilih menyerah dan melukai kita dengan pisau tajam itu
sebelum sempat aku bertanya apa alasanmu. Dan sekarang kita berdua
sama-sama terluka. Mungkin lukamu terlalu baru untuk terasa. Tapi suatu
saat nanti, akan ada seseorang yang mencoba bertanya dan merabanya.
Entah masih akan perih kah? Sekali lagi kau tak perlu melihat lukaku.
Obati saja sendiri lukamu.
Ucapan seseorang beberapa tahun yang lalu ternyata benar, kau harus siap kehilangan saat mendapatkan sesuatu. Aku ingat, tapi lebih sering aku abaikan. Dan, terjadilah. Dadaku penuh sesak oleh emosi. Tapi kesadaranku mencekal emosiku. Ini adalah jalan kita. Kita berada di dua ujung jalan yang menyimpang. Dan diujung jalan itu juga kau mulai melukai kita. Mulai menatapku sembari berkata, silahkan pilih jalanmu. Tetap bersamaku dengan pisau tajam ini, atau berbelok arah. Aku mencoba meraih pisau itu, namun gagal. Kau masih tak mengubah pilihanmu dan mulai berjalan. Aku menatap punggungmu dengan nanar. Kau terus berjalan tanpa menungguku yang masih menahan sakit ini. Kemudian aku berbelok arah. Itu mungkin akhir pertemuan kita. Tapi kita tetap tidak tahu apakah jalan yang terpisah ini akan berujung kembali pada jalan yang sama? Pandanganku mulai gelap, aku berhenti berfikir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar