Ini tentangku. Ya, bukan tentangmu atau tentang kalian.
Rasaku. Bukan rasamu atau rasa kalian. Jadi terserah aku. Bukan terserahmu atau
terserah kalian. Sekali lagi ini tentangku.
Cinta itu irrasional,abstrak. Sampai sedewasa inipun aku
masih belum paham apa definisi cinta itu. Dosenku pernah bilang “Love is
freedom. Karna kebebasan inilah aku bebas menentukan pilihan, dan aku
memilihmu.” Ada yang bilang lagi “Cinta itu memberi tak harap kembali.” “Cinta
itu ikut berbahagia saat orang yang kamu cintai bahagia, sekalipun bukan
denganmu.” Lalu “jika kamu mencintai seseorang,bebaskanlah. Jika dia milikmu
dia akan kembali, jika tidak biarkan dia pergi.” Dan masih banyak ungkapan yang
lain. Aku berusaha menerima semua dengan logikaku. Menyetujuinya, sepakat
dengan mereka tentang arti cinta. Aku menjalankannya dengan baik.
Tapi agak sulit ketika tiba dalam fase patah hati. Atau
lebih parahnya hatimu dipatahkan. Apa yang aku fikirkan pertama kali? “Sakit.”
Luka yang tak terlihat itu memang lebih sakit dari luka yang terlihat. Aku
mencoba mengobatinya dari hari kehari. Mencoba dan mencoba. Aku abaikan rasa
malasku untuk sembuh walau aku masih ingin menikmatinya. Aku abaikan
keinginanku untuk menyalahkan orang yang menyakitiku. Aku tahan tanganku untuk
menerima belas kasihan orang lain. Aku enyahkan bisikan untuk menumpuk luka ini
dengan luka baru. Mungkin terdengar angkuh. Tapi ini lukaku, aku tau apa yang
aku lakukan. Aku tak ingin menggunakan cara licik yang akhirnya membuat Tuhan
marah dan balik menghukumku.
Ketika kamu mematahkan hati orang dengan ketika hatimu
terpatahkan itu akan beda rasanya. Aku tidak akan membahas ini. Rasa kita
masing-masing akan berbeda. Dan tak perlulah kita berdebat tentang perbedaan.
Namun ketika hatimu terpatahkan pasti terpikir “Dimana salahnya?” atau jika
sudah tak ada yang bisa kamu tanyakan kamu akan bilang “tunggulah waktu
pembalasanmu.”
Sebagian besar orang yang sedang dipatahkan hatinya pasti
senang melihat orang yang menyakitinya akhirnya sakit. Tapi tolong percaya, itu
tidak berlaku denganku kali ini. Entahlah, rasa kejamku mulai luntur seiring
kedewasaan. Aku sedih melihatnya sedih. Aku sakit melihatnya sakit. Dan aku
senang melihatnya senang. Dia orang yang menyakitiku? Iya benar. Atau lebih
tepatnya dia orang yang mematahkan hatiku, memaksaku berhenti, dan membiarkanku
sendirian sementara dia sibuk menggapai tangan yang lain. Masih haruskah aku
perduli? Hatiku berkata “iya”. Karna memang sedikitpun aku tidak merasa bahagia
saat melihat dia bersedih. Apapun yang terjadi dengannya memang bukan urusanku
lagi, tapi mengapa aku masih perduli? Aku belum menemukan jawabanya sampai hari
ini. Mungkin aku menyayangimu dengan berlebih.
Fikirmu kenapa aku mau melepaskanmu? Aku mau melepaskanmu
karna aku ingin melihat mu bahagia. Bukankah kamu sendiri yang menginginkan
kebebasan? Tapi kenapa kamu masih belum bahagia juga? Jika harusnya aku yang
sakit mengapa kamu yang malah bersedih? Tolong jangan membuat pengorbananku
sia-sia dengan tetap bersedih. Ini membuatku patah hati dua kali.
Kata mereka ini cinta. Aku tak tau. Yang aku tau aku
menyayangimu sampai hari ini. Tanpa
syarat. Tanpa tapi. Tanpa melihat sempurnanya kamu karna aku sadar akupun tak
sempurna. Entah sampai kapan. Mari kita lihat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar