Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Rabu, 23 Mei 2012

Bagian terpatah dari patah hati (keping kelima)


Ini tentangku. Ya, bukan tentangmu atau tentang kalian. Rasaku. Bukan rasamu atau rasa kalian. Jadi terserah aku. Bukan terserahmu atau terserah kalian. Sekali lagi ini tentangku.
Cinta itu irrasional,abstrak. Sampai sedewasa inipun aku masih belum paham apa definisi cinta itu. Dosenku pernah bilang “Love is freedom. Karna kebebasan inilah aku bebas menentukan pilihan, dan aku memilihmu.” Ada yang bilang lagi “Cinta itu memberi tak harap kembali.” “Cinta itu ikut berbahagia saat orang yang kamu cintai bahagia, sekalipun bukan denganmu.” Lalu “jika kamu mencintai seseorang,bebaskanlah. Jika dia milikmu dia akan kembali, jika tidak biarkan dia pergi.” Dan masih banyak ungkapan yang lain. Aku berusaha menerima semua dengan logikaku. Menyetujuinya, sepakat dengan mereka tentang arti cinta. Aku menjalankannya dengan baik.
Tapi agak sulit ketika tiba dalam fase patah hati. Atau lebih parahnya hatimu dipatahkan. Apa yang aku fikirkan pertama kali? “Sakit.” Luka yang tak terlihat itu memang lebih sakit dari luka yang terlihat. Aku mencoba mengobatinya dari hari kehari. Mencoba dan mencoba. Aku abaikan rasa malasku untuk sembuh walau aku masih ingin menikmatinya. Aku abaikan keinginanku untuk menyalahkan orang yang menyakitiku. Aku tahan tanganku untuk menerima belas kasihan orang lain. Aku enyahkan bisikan untuk menumpuk luka ini dengan luka baru. Mungkin terdengar angkuh. Tapi ini lukaku, aku tau apa yang aku lakukan. Aku tak ingin menggunakan cara licik yang akhirnya membuat Tuhan marah dan balik menghukumku.
Ketika kamu mematahkan hati orang dengan ketika hatimu terpatahkan itu akan beda rasanya. Aku tidak akan membahas ini. Rasa kita masing-masing akan berbeda. Dan tak perlulah kita berdebat tentang perbedaan. Namun ketika hatimu terpatahkan pasti terpikir “Dimana salahnya?” atau jika sudah tak ada yang bisa kamu tanyakan kamu akan bilang “tunggulah waktu pembalasanmu.”
Sebagian besar orang yang sedang dipatahkan hatinya pasti senang melihat orang yang menyakitinya akhirnya sakit. Tapi tolong percaya, itu tidak berlaku denganku kali ini. Entahlah, rasa kejamku mulai luntur seiring kedewasaan. Aku sedih melihatnya sedih. Aku sakit melihatnya sakit. Dan aku senang melihatnya senang. Dia orang yang menyakitiku? Iya benar. Atau lebih tepatnya dia orang yang mematahkan hatiku, memaksaku berhenti, dan membiarkanku sendirian sementara dia sibuk menggapai tangan yang lain. Masih haruskah aku perduli? Hatiku berkata “iya”. Karna memang sedikitpun aku tidak merasa bahagia saat melihat dia bersedih. Apapun yang terjadi dengannya memang bukan urusanku lagi, tapi mengapa aku masih perduli? Aku belum menemukan jawabanya sampai hari ini. Mungkin aku menyayangimu dengan berlebih.
Fikirmu kenapa aku mau melepaskanmu? Aku mau melepaskanmu karna aku ingin melihat mu bahagia. Bukankah kamu sendiri yang menginginkan kebebasan? Tapi kenapa kamu masih belum bahagia juga? Jika harusnya aku yang sakit mengapa kamu yang malah bersedih? Tolong jangan membuat pengorbananku sia-sia dengan tetap bersedih. Ini membuatku patah hati dua kali.
Kata mereka ini cinta. Aku tak tau. Yang aku tau aku menyayangimu  sampai hari ini. Tanpa syarat. Tanpa tapi. Tanpa melihat sempurnanya kamu karna aku sadar akupun tak sempurna. Entah sampai kapan. Mari kita lihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar