“Saat aku tahu dia sudah tak mencintaiku,seketika itu juga
aku memilih untuk mencintai diriku sendiri. Dan itu membantuku untuk bangkit. Seperti
yang kamu lihat sekarang, aku baik-baik saja.”
Bertemu dengan orang yang tepat, ditempat yang tepat dan
waktu yang tepat itu selalu mendatangkan sebuah manfaat. Dia, wanita yang dulu
lebih rapuh dariku membuatku tersadar akan adanya titik balik. Dimana semua
yang telah kau lakukan mencapai batas maksimal dan akhirnya kembali kepadamu
lagi. Aku lupa awalnya kami berbicang tentang apa. Dia sepertinya tau sekali
kalo fikiranku sedang tidak berada ditempatnya. Dengan cerdas dia menebak, dan
tepat. Selalu begitu. Hampir tak ada yang bisa aku sembunyikan darinya. Untuk beberapa
hal kami ini terlalu mirip. Dan aku nyaman bersamanya.
“kamu lelah?”
“belum.”
“bohong. Lelaki macam apa dia sampai bikin kamu kayak gini?”
“dia seperti sebuah buku yang mudah dibaca, tapi sulit
dipahami.”
“tipemu?”
“coba tebak?”
“seseorang yang membuatmu seperti ini pasti luar biasa. Atau
kamu yang terlalu rapuh?”
“pernah melihatku lebih parah dari ini bukan? Tak perlu
kuatir. Aku tak serapuh kelihatanya.”
“kapok?”
“jangan bercanda. Berapa lama kamu kenal aku?”
“haha... dari sepuluh kesempatan yang diberi,pasti ada satu
yang tepat sekalipun kamu ngawur ngejawabnya.”
“kalo salah semua?”
“ berarti kamu harus minta seratus kesempatan,biar dapet
sepuluh kemungkinan yang benar.”
Aku diam. Dia menyeruput minumanya. Kami terdiam.
“aku harus gimana?”
“bangun. Hatimu bilang apa?”
“bangun.”
“yaudah bangun. Mau nyiksa diri? Dulu, Saat aku tahu dia
sudah tak mencintaiku,seketika itu juga aku memilih untuk mencintai diriku
sendiri. Dan itu membantuku untuk bangkit. Seperti yang kamu lihat sekarang,
aku baik-baik saja.”
“Aku sayang dia tapi juga sayang diriku sendiri. Ini terlalu
sederhana tapi aku suka.”
“ada saat dimana kamu harus berjalan,berlari lalu berhenti. Bukan
karna kamu lelah, tapi karna kamu sudah mencapai garis finish yang tak kamu
sadari. Lalu apa lagi? Terus berlari? Jangan menyiksa diri. Kalo capek ya
duduk.”
Aku masih terdiam. Dia melanjutkan “ijinkan hatimu bernafas
dulu. Udah kirim surat ke Tuhan?”
“udah.”
“yaudah tunggu jawabanya. Udah belajar sabarkan kemarin?”
“Huum.”
“jodohmu itu orang yang menjagamu, menghormatimu dan
menyayangimu. Jika dia tidak punya salah satu dari kategori ini maka lupakan. Buka
hatimu saat kamu siap. Lebih peka sama titik balik. Merasa udah melakukan yang
terbaik kemaren?”
“kayaknya udah. Buktinya sampai terakhirpun aku belum
nyerah. Sekarangpun juga. Cuma memang dengan cara yang beda. Cuma bisa ngejaga
dia lewat doa dan perhatian kecil. Sesayang apapun aku ke dia, dia udah bukan
apa-apaku lagi. Dan aku dosa kalo sampai bikin dia nggak nyaman.”
“doain aja dia bahagia. Episodemu saat ini sudah selesaikan?
Siap-siap bikin episode yang baru, entah dengan actor lama atau actor baru. Bisa
kog. Gak ada yang maksa harus cepet. Kalian gak lagi maen siapa cepat dapet
pacar baru kan?”
Kami tertawa...
Terkadang aku berpikir aku bukan tipe orang yang benar-benar
bisa sedih. Selalu saja ada yang bisa aku tertawakan sekalipun dalam lukaku,
sekalipun menertawakan diriku sendiri juga. Dan aku masih menolak beberapa ulur
tangan yang mencoba menambal lukaku dengan hati mereka. Bukan sok kuat. Aku hanya
tak mau terlalu kejam pada orang lain. Kejam bukan saat kamu bersama orang baru
tapi hatimu masih bersama orang lama. Aku tak mau diperlakukan seperti itu
juga.
Ada banyak hal konyol yang dimaklumi saat kamu jatuh cinta. Setelah
kamu kembali lagi ke alam sadar, kamu tau hal konyol itu mirip ketololan. Sampai
hari ini mungkin aku masih konyol, karna aku masih dipenuhi rasa cinta. Entah bagaimana
dengan dia yang aku cintai ini. Dia menikmati hidupnya. Baik-baik saja disana. Dengan
hatinya yang tak terdefinisi. Dengan hatinya yang entah kali ini untuk siapa. Aku
akan menikmati rasa ini sampai aku harus kembali lagi ke alam sadar. Tak tau
kapan. Screen saver nootebook ku menampilkan slide show fotonya. Dalam hati aku
berkata “ya Tuhan, aku masih menyayangi orang ini. Entah sampai kapan. Sadarkah
dia?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar