Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Senin, 07 Mei 2012

Hujanku, datanglah kau tepat waktu (keping kedua)


Aku menunggu hujan membantuku menyelesaikan keping kedua. Itu sebabnya keping-keping yang lain lebih dulu muncul. Kota yang aku cintai jarang sekali hujan. Beruntung aku sedang berada di kota lain dan beruntung juga di sini hujan.
Ah... hujan. Entah mengapa aku begitu menyukai hujan, tanpa petir. Aku menyukai hujan. Dia selalu datang tepat waktu. Dan dia membantuku menyembunyikan air mataku. Entah itu untuk suka maupun duka.
Hujan itu berkah, iya aku percaya. Jika setelahnya adalah banjir, anggap saja bonus. Dalam banjirpun masih ada beberapa orang yang berbahagia bukan? Karna mereka bisa mencari penghasilan dari sana. Jangan terlalu kejam terhadap mereka dengan mengutuk banjir. Kita pernah bahagia merekapun juga berhak.
Di keping kedua ku aku mulai tak sabar menghitung hari. Dimana aku berusaha menemuimu dan meminta kejelasan. Seperti katamu dulu,wanita memang butuh kejelasan. Kejelasan tentang apayang terjadi dengan kita sebenarnya. Apa maumu. Apa mauku. Aku malu dengan umurku yang sekarang jika kita bersikap seperti anak kecil yang gagal menyelesaikan  masalah kemudian lari. Apapun keputusanya mungkin lebih mendewasanya jika kita membicarakanya. Kamu tau, aku mulai pasrah? Mungkin ini usaha terakhirku. Tidak, tentu saja aku belum menyerah. Kau tau beda pasrah dengan menyerah bukan?  Aku tau tangan Tuhan yang lembut sedang menuntunku mencari jalan. Aku harus tetap sadar akan tanda-tanda yang Ia berikan. Agak sulit membuatku mundur ya? Sama sulitnya dengan memaksamu membagi cerita tentang isi hatimu. Kita memang dua orang yang sama-sama sulit. Kau dengan kesulitanmu, aku dengan kesulitanku. Itu pembedanya.
Memang, dua orang yang terlalu sama itu tidak bisa berdekatan dalam waktu yang lama. Kau terlalu mengerti tentang dia begitu juga sebaliknya. Jika hidup itu belajar, apa lagi yang bisa kau pelajari? Apakah kau sudah mengenal dirimu sendiri? Sebagai teman mungkin menyenangkan memiliki persamaan. Tapi sebagai pasangan? Kau butuh perbedaan. sedikit ombak dalam hubunganmu. Terkadang juga badai. Seperti kita sekarang ini. Menunggu tenggelam kalah atau menunggu badai reda dan kita masih bertahan dengan puing-puing kapal yang masih tersisa.
Fakta saat aku bilang aku takut kehilanganmu. Bohong jika aku bilang aku tak memikirkanmu. Fakta jika aku bilang aku masih ingin kita mencoba memperbaiki. Bohong jika aku bilang aku tak berat melepaskanmu. Kau boleh memilih percaya fakta atau kebohonganku.
Hujan itu waktu yang baik untuk berdoa. Kapanpun sebenarnya juga baik asal kau yakin akan doamu. Tuhan masih tetap maha mendengar dikala hujan ataupun panas. Saat berdoa aku sering membayangkan Tuhan membelai rambutku dan tersenyum padaku. Bagaimanapun Tuhan suka mendengar  hambanya berdoa. Dia suka melihat hamba-hambanya meminta, memohon. Bahkan Tuhan bisa marah jika hambanya berhenti meminta. Aku terkadang berkata kepada Tuhan, “Tuhan, permintaanku masih tetap sama. Aku masih ingin bersama dia. Bisa kau kembalikan dia padaku? Aku tau dia milikmu. Tapi masih bolehkan kami belajar bersama? Aku janji akan belajar dengan baik. Sebisanya kami akan saling menjaga. Terimakasih.”
Jika kau fikir kau telah pergi, aku akan mencoba memintamu kembali. Bukan menahanmu, hanya memintamu. Aku bukan seseorang yang malu membuka kembali buku lamaku. Jika aku masih ingin melanjutkannya mengapa tidak? Aku percaya semua orang ditakdirkan berbeda. Mendapatkan orang yang sama sepertimu itu hampir tidak mungkin. Jika ruang dihatiku isinya masih penuh denganmu untuk apa aku mencari hati baru dan mencoba menumpuknya? Menyakiti hati baru  untuk membalut luka yang belum hilang itu jahat sekali.
Hujan ini turun semakin deras. Aku merindukanmu sederas ini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar