Aku menunggu hujan membantuku menyelesaikan keping kedua.
Itu sebabnya keping-keping yang lain lebih dulu muncul. Kota yang aku cintai
jarang sekali hujan. Beruntung aku sedang berada di kota lain dan beruntung juga
di sini hujan.
Ah... hujan. Entah mengapa aku begitu menyukai hujan, tanpa
petir. Aku menyukai hujan. Dia selalu datang tepat waktu. Dan dia membantuku
menyembunyikan air mataku. Entah itu untuk suka maupun duka.
Hujan itu berkah, iya aku percaya. Jika setelahnya adalah banjir,
anggap saja bonus. Dalam banjirpun masih ada beberapa orang yang berbahagia
bukan? Karna mereka bisa mencari penghasilan dari sana. Jangan terlalu kejam
terhadap mereka dengan mengutuk banjir. Kita pernah bahagia merekapun juga
berhak.
Di keping kedua ku aku mulai tak sabar menghitung hari.
Dimana aku berusaha menemuimu dan meminta kejelasan. Seperti katamu dulu,wanita
memang butuh kejelasan. Kejelasan tentang apayang terjadi dengan kita
sebenarnya. Apa maumu. Apa mauku. Aku malu dengan umurku yang sekarang jika
kita bersikap seperti anak kecil yang gagal menyelesaikan masalah kemudian lari. Apapun keputusanya
mungkin lebih mendewasanya jika kita membicarakanya. Kamu tau, aku mulai
pasrah? Mungkin ini usaha terakhirku. Tidak, tentu saja aku belum menyerah. Kau
tau beda pasrah dengan menyerah bukan? Aku tau tangan Tuhan yang lembut sedang
menuntunku mencari jalan. Aku harus tetap sadar akan tanda-tanda yang Ia
berikan. Agak sulit membuatku mundur ya? Sama sulitnya dengan memaksamu membagi
cerita tentang isi hatimu. Kita memang dua orang yang sama-sama sulit. Kau
dengan kesulitanmu, aku dengan kesulitanku. Itu pembedanya.
Memang, dua orang yang terlalu sama itu tidak bisa
berdekatan dalam waktu yang lama. Kau terlalu mengerti tentang dia begitu juga
sebaliknya. Jika hidup itu belajar, apa lagi yang bisa kau pelajari? Apakah kau
sudah mengenal dirimu sendiri? Sebagai teman mungkin menyenangkan memiliki
persamaan. Tapi sebagai pasangan? Kau butuh perbedaan. sedikit ombak dalam
hubunganmu. Terkadang juga badai. Seperti kita sekarang ini. Menunggu tenggelam
kalah atau menunggu badai reda dan kita masih bertahan dengan puing-puing kapal
yang masih tersisa.
Fakta saat aku bilang aku takut kehilanganmu. Bohong jika
aku bilang aku tak memikirkanmu. Fakta jika aku bilang aku masih ingin kita
mencoba memperbaiki. Bohong jika aku bilang aku tak berat melepaskanmu. Kau
boleh memilih percaya fakta atau kebohonganku.
Hujan itu waktu yang baik untuk berdoa. Kapanpun sebenarnya
juga baik asal kau yakin akan doamu. Tuhan masih tetap maha mendengar dikala
hujan ataupun panas. Saat berdoa aku sering membayangkan Tuhan membelai
rambutku dan tersenyum padaku. Bagaimanapun Tuhan suka mendengar hambanya berdoa. Dia suka melihat
hamba-hambanya meminta, memohon. Bahkan Tuhan bisa marah jika hambanya berhenti
meminta. Aku terkadang berkata kepada Tuhan, “Tuhan, permintaanku masih tetap
sama. Aku masih ingin bersama dia. Bisa kau kembalikan dia padaku? Aku tau dia
milikmu. Tapi masih bolehkan kami belajar bersama? Aku janji akan belajar
dengan baik. Sebisanya kami akan saling menjaga. Terimakasih.”
Jika kau fikir kau telah pergi, aku akan mencoba memintamu
kembali. Bukan menahanmu, hanya memintamu. Aku bukan seseorang yang malu
membuka kembali buku lamaku. Jika aku masih ingin melanjutkannya mengapa tidak?
Aku percaya semua orang ditakdirkan berbeda. Mendapatkan orang yang sama
sepertimu itu hampir tidak mungkin. Jika ruang dihatiku isinya masih penuh
denganmu untuk apa aku mencari hati baru dan mencoba menumpuknya? Menyakiti
hati baru untuk membalut luka yang belum
hilang itu jahat sekali.
Hujan ini turun semakin deras. Aku merindukanmu sederas
ini...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar