Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Sabtu, 24 November 2012

Pelukku Teruntuk Kalian (keping dua enam)

Kali ini tentang kita, bukan kami. Dan didalam kita ada kalian. Para malaikat dengan sayap transparant. Yang lebih memilih berjalan kaki bersamaku daripada terbang. Toh aku membutuhkan kalian didekatku, bukan terbang diatas, didepan atau malah dibelakang. Apakah aku sudah melakukan hal yang sama untuk kalian? Seperti menolong, memperingatkan atau menjaga? Jika belum, tolong maafkan aku..


Kalian itu dimulai dari kedua orang tuaku. Akan sangat panjang dan mungkin tak bisa habis jika aku membahas tentang kalian. Sungguh maafkan aku yang terlalu egois menggunakan waktu untuk diriku sendiri dan jarang mendengar keluhan kalian. Sungguh, aku menyayangi kalian lebih dari aku menyayangi dia. Tolong percaya, sekalipun aku sering memikirkan dia, tapi kalianlah yang lebih sering membuatku menangis saat mengingat aku akan ditinggalkan suatu hari nanti. Dan aku belum siap kehilangan kalian sesiap aku kehilangannya kemarin. Kau ibu, pernah berkata, tak akan meninggalkanku sebelum aku menemukan jodohku dan melihat kami hidup dengan tenang dan damai. Sedang kau bapak, sekeras apapun kau, kau mulai paham aku telah mendewasa dan mulai bisa menentukan pilihanku sendiri. Kau sadar,kau hanya tinggal memberi restu serta doa. Terima kasih atas rasa sayang yang tak terputus sekalipun kalian mulai lelah melihatku belum bisa berdiri sendiri di usia sedewasa ini. Boleh aku cukupkan tentang kalian? Aku sudah hampir menangis.


Kalian selanjutnya adalah saudaraku, keluargaku. Kalian itu pelengkap. Betapa sepinya rumah ini tanpa kalian. Adiku, kita memang lebih sering bicara dalam diam. Tapi kita mengerti satu sama lain. Dalam diam kita ini kita tau kita bisa saling menjaga. Mungkin hanya sedikit yang bisa aku tulis tentangmu. Tapi percayalah, didalam diamnya bibirku itu karna terlalu banyak cerita tentangmu. Dan dalam diamnya aku, banyak doa untukmu.


Kemudian kalianku berikutnya yaitu mereka, Sahabatku. Kalian itu tempatku mencari warna. Beberapa memang sewarna denganku. Tapi lebih banyak yang berbeda. Aku membutuhkan pembeda untuk belajar bukan? Aku membutuhkan pembeda untuk dibutuhkan dan membutuhkan. Pembeda untuk melengkapi dan terlengkapi. Pembeda untuk belajar dan mengajar. Untuk menghargai dan dihargai. Pembeda untuk memahami dan dipahami. Untuk menegur dan ditegur. Untuk dicintai dan mencintai.

Akupun membutuhkan yang sama denganku untuk bercermin. Untuk mengetahui betapa menyebalkannya ataupun menyenangkannya menjadi aku. Kenapa aku menyebut kalian sahabat? Karna kalian bukan hanya orang yang berbasa basi tentang "Hai" kemudian "Owh.." Dan bukan pula orang yang terlalu takut menegurku, pun tertawa bersamaku. Bukan orang yang sejarang apapun kita bertemu, kita akan kaku. Bukan.


Dan terakhir kalianku itu, kamu. Aku membutuhkanmu diantara malaikat-malaikat bersayap transparanku. Tapi aku memang sedang menyebalkan akhir-akhir ini. Asal kamu tau, aku sedang bertaruh dengan waktu, dengan masa depanku. Aku tak menceritakannya padamu? Ada dua kemungkinan kalau begitu: 1. Aku tak mau merepotkanmu dengan hal yang mungkin sepele bagimu tapi berat untukku. 2. Aku tak mau kamu mengasihaniku. Beda antara kasihan dan rasa sayang. Tugasmu, jika kamu mau, hanya menyayangiku. Tanpa perlu kasihan. Ragaku masih lengkap, jadi aku belum butuh rasa kasihanmu. Atau mungkin alasan lainnya adalah aku belum terlalu percaya padamu? Aku takut kau dengan santai membicarakan hidupku kepadanya, orang yang tidak aku suka yang kebetulan menjadi orang dekatmu? Tidak perlu, sungguh. Akan lebih membebaniku melihat tawanya ketika mengetahui keadaan ku saat ini. Aku punya pilihan. Tapi kecil. Dan aku terlalu sayang untuk mempertaruhkan hal kecil ini untuk masa depanku. Kamu tau, mungkin aku hanya perlu suntikan kesabaran, kenormalan, dan confident dalam dosis tinggi  untuk saat ini.


Tuhan selalu baik. Selalu. Tuhan selalu tahu kapan waktunya untuk menggiringku untuk berdekatan dengan kalian. Dia selalu tau, ada waktunya dimana aku harus menuang apa yang aku pikirkan dan rasakan ketelinga kalian. Tuhan selalu tahu cara membuatku kembali mengeluh kepada kalian. Dan dengan cara itu Tuhan menyakinkanku bahwa aku ini masih manusia biasa yang membutuhkan kalian, dan juga amat sangat membutuhkan Dia. Dia amat tau kapan membuatku menyerah dan memasrahkan semua kepada-Nya saja. Aku hanya kadang bingung, sudah berusaha maksimalkah aku? Dan itu yang membuatku sakit. Iya, pikiranku terkadang terlalu ganas untuk dilawan. Mungkin juga karna ego dan nafsu. Entahlah, yang aku tau, mungkin memang sudah waktunya aku lebih penurut sebagai manusia.


Satu lagi permasalahan yang aku hadapi di usia mendewasaku ini. Kali ini bukan soal hati. Bukan soal memilih lelaki yang ini atau yang itu. Bukan masalah aku harus move on dengan cara apa. Bukan! Ini masalah berani mengambil keputusan atau tidak. Dengan keduanya yang beresiko. Dan resiko tersebut pasti kembali ke aku. Aku membutuhkan kalian, setidaknya untuk berkata "Coba fikir lagi. kamu pasti bisa bijaksana mengambil keputusan. Ini hidupmu,tanggung jawabmu sendiri." Darn! Kalian belum pernah melihatku sekacau ini bukan? Karna biasanya aku bisa menenangkan diriku sendiri. Dan kali ini, agak gagal. Aku membutuhkan kalian. Aku masih manusia...


Teruntuk para kalianku. Beberapa dari kita punya sayap transparan yang jarang kita gunakan. Tapi percayalah, itu akan sangat berguna disaat yang tepat. Seperti saat ini, sayap-sayap kalian sedang memeluku. Dan kalian yang lainnya tersenyum. Tenanglah, akan tiba giliran kita saling memeluk. :)


*Kalianku: Ibu & Bapak, Keluarga, Para sahabat, dan kamu. Tolong bilang saat tiba giliranku memeluk kalian. Tapi sebelum kalian bilangpun, kedua tanganku selalu terbuka untuk kalian :*

Sabtu, 10 November 2012

Seni melupakan (keping dua lima)

Saat bertanya tentang maaf kepadaku kamu seperti bertanya pula tentang iklas.
Menurutku, memaafkan adalah suatu kondisi dimana kita benar-benar lupa akan kesalahan orang. Sehingga kita tidak mengungkitnya lagi dilain waktu. Hampir mirip dengan iklas bukan?
Iklaspun begitu. Suatu keadaan dimana kita hampir ato tidak merasa kehilangan sesuatu. Dan iklas itu ngga pake tapi.
Rumit? Bingung?
Jadi kalau ada orang yang bilang "iya,aku udah maafin kamu kog" tapi dilain waktu masih dibahas, itu belum benar-benar dimaafkan. Dan saat belum bisa memaafkan,berarti pula belum iklas.
Jadi aku lebih suka belajar melupakan. Saat lupa berarti kamu iklas, berarti kamu memaafkan. Ini menurutku.
Saat melupakan kesalahan orang tak jarang aku melupakan orangnya juga. Tapi tetap ini tergantung seberapa besar salahnya. Jika salahnya bisa aku lupakan, berarti cukup salahnya saja. Namun jika tidak, maaf, orangnya pun harus aku lupakan. Bukan, bukan pendendam. Ini lebih ke menghindari sifat munafik. Justru dendam itu saat orang belum bisa melupakan kesalahan orang lain.
Terserah kalian mau belajar memaafkan seperti apa. Inilah caraku. Dan terserah kalian pula akan memberi maaf kepadaku seperti apa...

Aku sering berkata pada diriku sendiri "Aku bukan tipe pemaaf, tapi aku tipe pelupa. aku akan berusaha melupakan kesalahan kalian."

Kamis, 08 November 2012

Aku dan Para Bintang (keping dua empat)

Hallo.... aku Scorpio. Iya, memang kalajengking. Tapi aku tak semenakutkan itu. Bisaku tetap tak akan iseng aku pergunakan untuk bermain-main. Jadi tenang saja. Mereka bilang aku ini misterius. Mungkin. Aku agak susah menilai diriku sendiri tanpa bantuan kalian. Mereka suka memujiku karna aku penyimpan rahasia yang baik. Katanya juga aku seorang yang setia. Ahh... terima kasih. Tapi mereka sering memamarahiku karna aku pendendam. Sebenarnya bukan pendendam, tapi orang yang susah melupakan. Apapun. Termasuk kesalahan orang lain. Jadi, ya begitulah...

Disini aku tak sendirian. Tak semalang itu nasibku. Aku dikelilingi para bintang. Sama terangnya. Sama seimbangnya antara plus dan minus... Baiklah, aku akan menceritakan tentang mereka.

Dia, sagitarius. Menurutku dia orang yang penuh konsentrasi. Lihat saja panah yang dibawanya. Hanya orang yang punya konsentrasi luar biasa yang bisa memanah. Atau malah justru dia orang yang tak mau menyerah? Sesering apapun dia memanah dan meleset, dia tetap kekeuh mengenggam panah. hebaaat. Tapi menurutku mereka terlalu ngeyel, jika tak bisa mendapatkan sesuatu dengan panah kenapa tak menggantinya dengan pistol? Atau beli saja di pasar mungkin? Oh sagitarius, aku mengagumimu.

Yang disebelah Sagitarius adalah Capricorn. 2tahun lebih menjalin hubungan spesial dengannya membuatku sedikit banyak mengerti seperti apa dia. Dia sabar untuk orang sebawel aku. Atau mungkin karna perbedaan umur kami. Entahlah. Tapi terima kasih untuk kesabaranmu. Kamu juga humoris sampai-sampai aku sering cemburu karna banyak yang menyukaimu. Tapi kamu pula orang yang terlalu sering komplain ini itu. Bahkan untuk urusan sepele seperti warna baju. Wooowww..... Capricorn, terima kasih.

Lalu aquarius. Sebenarnya kami tidak terlalu dekat. Tapi tentu saja aku menghormatinya. Dia orang yang terbuka. Aku beberapa kali bertukar pikiran dengannya. Dia juga kreatif. Ada saja hal yang mereka buat untuk membuat kami sekedar bilang astaga. Tapi dia juga suka menyendiri. Mungkin justru itu yang membuatnya kreatif. Mungkin.

Pices. Dia teman kecilku. Sahabatku. Meski sekarang ini kami jarang bertemu sahabat tetap saja sahabat. Dia baik, amat baik malah. Aku sering merepotkannya dengan ada saja kepanikanku. Dia juga tidak egois. Kami dulu sering berbagi kamar.Tepatnya kamarnya yang dibagi untukku. Menginap semalam hanya untuk sekedar saling curhat attau nonton film baru. Tapi dia tertutup sekali memang. Sampai hari ini  aku masih belum berhasil mencari tau siapa orang yang sedang dia suka. Dasaarr...

Aries. Sikap percaya dirinya sering membuatku hanya bisa diam. Luar biasa. Dia juga pemberani. Terutama berani mengambil keputusan. Tapi karna aku diam dia jadi agak egois memutuskan ini itu semaunya. Oh baiklah, kamu mengagumkan, sekaligus membuatku pusing.

Taurus. Pacar pertamaku. Aku masih ingat coki-coki yang tiap hari kamu bawa lalu di istirahat jam pelajaran terakhir kamu berikan sambil berkata " jangan bilang-bilang sama yang lain ya. Biar gak pada minta."  Kamu juga baik terhadap siapa saja. Paling males kalo disuruh berantem. Jadi lebih sering bilang "terserah" waktu kita ribut. Lalu diam-diam nulis permintaan maaf yang kamu letakan di laci mejaku. Tapi kamu juga agak pencemburu. "Jangan genit bisa gak sih?" itu omelanmu jaman dulu. Padahal kamunya lebih genit. Ahh... coki-coki :)

Gemini. Pacar terakhirku saat ini (sekarang belum nemu pacar baru soalnya). Dia orang yang baik dan supel. Mudah beradaptasi. Itu pula yang aku katakan padanya saat dia mulai cemas atas masalah penempatan. Harus memendam kira-kira 6tahun sampe akhirnya Tuhan mengijinkan kami bersatu walau cuma sebentar. Tapi dia seorang yang tertutup. Gemini, aku menyayangimu..

Cancer. Tidak banyak yang bisa aku ceritakan tentang cancer. Tapi mereka orang yang hati-hati, pelindung dan simpatik. Tapi kalau udah sedih, bisa lebay banget.

Leo. Si singa ini adalah salah satu mantan terindah juga. Indah karna kami terlalu sering ribut. Dia pandai membawa diri. Banyak ilmu yang aku dapatkan dari dia, terutama tentang mencintai keluarga. Kami hanya terpaut beberapa bulan tapi dia sering merasa paling tua. Leo, apa kabar kamu?

Virgo. Entah mengapa mereka menyenangkan sekali. Pemalu dan rendah hati. Kadang membuat iri karna sikap ke-dewi-annya. Tapi mereka justru perfeksionis. Mungkin efek dari ke-dewi-annya ini.

Libra. Seorang yang romantis dengan senyum yang magis. Senyum yang dulu sering membuatku diam-diam melirik disaat pergi mengaji. Tapi dia jarang bersikap serius. Sial, aku hampir tak bisa membedakan kapan dia serius, kapan dia usil.


*Note: Siapapun kalian dibalik bintang-bintang ini, terima kasih untuk tidak meninggalkanku benar-benar sendirian.