Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Sabtu, 27 Oktober 2012

Sesaat Setelah Terbangun (keping dua tiga)

Apanya yang takut kehilangan kalau dia bukan milikmu?

dan

Apanya yang akan pergi lagi jika kembalipun tidak?

Ini semua pasti karna satu kata,yaitu "Merasa"
Merasa kehilangan padahal sama sekali tak memiliki. 
Merasa akan ditinggal pergi padahal kembalipun tidak.
Merasa, merasa, merasa....
Sudahlah,ijinkan hatimu bernafas. Ijinkan hatimu berlogika, bukan selalu merasa...

Jumat, 26 Oktober 2012

Surat terakhirku, sayang. (keping duadua)


Dear (ter)sayang,


Saat kau baca ini mungkin aku telah satu langkah didepanmu. Menoleh sebentar kebelakang lalu menggeleng. Dan kau, mungkin sedang memperhatikan wanita itu. Tanpa sadar bahwa aku sudah tak berada lagi ditempatku terakhir kali berdiri. Kau pasti mengira ini masih wanita yang sama. Kau salah sayang. Ini berbeda. Wanitamu banyak. Tapi bukan wanita itu sayang. Bukan.


Kau diam-diam mengagumi wanita ini. Aku tau saat kau tak sadar seperti orang mengigau menyebut namanya beberapa kali. Kau sebut dia cantik. Sayang,apakah kau lupa bahwa semua wanita itu cantik? Kau bilang wanita ini calon ibu yang baik. Sayang apakah kau lupa semua wanita pasti ingin menjadi yang terbaik untuk keluarganya? Kau bilang wanita ini pandai mengurus rumah. Sayang,masih banyak tangan wanita yang belum kau lihat saat mengurus rumah. Satu lagi, kau bilang dia cerdas. Sekali lagi sayang,apakah ada wanita yang tidak cerdas? Kami semua cerdas. Termasuk dalam hal membuat kalian para lelaki bertekuk lutut. Jadi sayang, sebenarnya kami ini sama,dengan sifat dasar kami sebagai wanita. 


Sayang, akupun sadar selain sifat dasar kami, kami mempunyai beberapa hal yang berbeda. Si kembarpun juga begitu,bukan? Apalagi kami. Mungkin dibeberapa hal dia lebih terlihat. Akh...aku pemalu sekali untuk hanya sekedar memperlihatkan lebihku didepanmu. Kau belum tentu menjadi pemilik utuhku,jadi untuk apa aku bersusah payah memamerkannya? Kau masih punya mata normal untuk melihatnya sendiri bukan?

 

Tapi sayang, sedikitpun aku tak ingin menjadi dia. Atau bersikap seolah-olah sepertinya agar kau lebih memperhatikanku. Aku tidak perlu melakukannya. Sungguh. 

Sayang,sekarang coba kamu jawab ini. Apakah dia seorang wanita yang perhatian? Mungkin iya. Tapi apakah perhatiannya penuh tertuju kepadamu seperti aku?

Apakah dia seorang wanita yang ikut tertawa bersamamu dan menangis pula saat kau sedih sepertiku? Kau boleh menjawab iya untuk tawa. Tapi tidak untuk bersedih. Dia pernah menertawakan kesedihanmu. 

Lalu hal yang terpenting, Apakah hatinya untukmu seperti hatiku untukmu? Sayang sekali sayang, jawabannya "Tidak." Memang semua yang aku sebutkan itu tersembunyi didalam,yang terabaikan oleh mata fisikmu. Tapi apakah mata hatimu tak mau melihatnya juga? Sayang sekali.

 

Sayang, aku tau kami terlalu indah untuk kalian abaikan. Tapi kami berbeda. Taukah kau mengapa aku tidak terlalu menunjukan apa yang aku punya? Benar, aku seseorang yang mencintai diriku. Aku orang yang suka sekali memeluk diriku sendiri sebelum menyalurkan pelukanku kepadamu. Aku orang yang suka sekali mengkritik diri sendiri sebelum aku sempat mengkritikmu. Aku orang yang sering bercanda dan tertawa bersama diriku sendiri sebelum aku tertawa bersamamu. Dan bagian tersusah adalah aku masih terus belajar memaafkan diriku sendiri sebelum memberi maaf atas salahmu. Apakah dia seperti aku sayang?


Sebelum ini aku sama sekali tidak perduli dia siapa, berumur berapa, bekerja dimana, putri siapa, apa hobbynya dan lain sebagainya. Namun setelah kau beberapa kali mengingau tentangnya, akupun mulai mencari tau. Namun sayang, sedikitpun tak ada yang aku ingini dari dia. Jadi kesimpulannya, jika kau tak mengaguminya mungkin aku tak akan perduli denggannya. Ini salahmu. Dan aku tak ingin terlibat dalam masalah ini. Masalah yang aku sendiri tak tau apa masalah sebenarnya. Jadi aku putuskan untuk tidak memperdulikannya. Dan tidak memperdulikan perhatianmu kepadanya. Oh...saat ini menyayangimu dalam diam dan berpura-pura tidak tau itu memang lebih baik. Tidak sayang, aku tidak menuntut balas. Aku yang memutuskan untuk menyayangimu. Jadi aku pulalah yang harus menanggung resikonya.


Sayang, diluar sana aku tau ada yang sedang mengagumiku seperti kau mengaguminya. Kau pasti tau rasanya mengagumi orang secara diam-diam, bukan? Dia pasti begitu. Sayang, kalau kau tak ingin benar-benar kehilangan orang yang tulus menyayangimu sepertiku, tolong jangan mengabaikanku terlalu lama. Karna mungkin dia akan menemukanku tepat disaat kau baru saja tersadar aku telah pergi.


Masih untukmu peluk ini, masih untukmu rindu ini.

Aku

Sabtu, 20 Oktober 2012

Selamat Pergi..(keping dua satu)

Sebelumnya terima kasih telah menyempatkan diri untuk menyapaku beberapa minggu yang lalu. Terima kasih telah mau berbagi tempat untuk saling memandang. Untuk saling mengetahui satu sama lain. Untuk mencari tau adakah yang telah berubah dari kita. Everybody change, begitupun aku dan kamu. Begitu pula perasaan dan hati kita. Bukan kau lagi alasanku untuk menangis, merindu, tertawa, mengenang. Maaf,bukan kau lagi. Perlukah ku beri tau sebelumnya kalau aku hampir berhasil melupakanmu? Tepatnya sebelum kau datang lagi. Beberapa tahun tanpa sapamu membuatku terbiasa. Tapi ternyata justru kau yang belum terbiasa. Kau fikir aku masih menggilaimu seperti beberapa tahun dulu? Sayang sekali, salah.  Rasa ini tinggal sisa untukmu.

Masih ingatkah kau (tanpa mau tau perasaanku) pernah bercerita tentang wanita lain? Kau bilang kau menyukainya, mengaguminya dan ingin bersamanya. Padahal saat itu telah ada aku. Kau mau tau rasanya? Tapi mana mungkin akan sama rasanya jika rasamu tak serupa dengan rasaku? Saat itu aku merelakan hatimu terbagi. Aku mencoba bertahan. Tapi pada akhirnya kau tetap memutuskan pergi. Aku bisa apa?

Kau tau berapa lama aku membiasakan diriku tanpamu? tanpa sapaan lembut darimu? tanpa canda tawamu?
Kau tau betapa susahnya membencimu? mengabaikanmu? berhenti memikirkanmu? tak mengirimkan doa untukmu?
Dan disaat aku mulai bisa, kau datang.
Pertahananku memang lebih kuat, tapi tetap saja kau menggodaku untuk menyambut sapaanmu.
Aku memang lemah. Tapi rasa ini sudah bukan untukmu lagi.

Aku tau ada nada cemburu saat aku menceritakannya. Hampir sama persis saat kau membicarakan wanita itu kepadaku. Ada sedikit rasa puas yang tak ku rencanakan. Sungguh.

Dan kini kau pergi lagi. Aku semakin tidak merasa kehilangan. Kau pernah seperti itu berulang kali.
Tapi mungkin justru kau yang merasa kehilangan perhatianku yang dulu? Maaf jika membuatmu kecewa. Harusnya kau belajar bahwa sebuah luka,jika rajin diobati,walau lama pasti akan sembuh.

Terima kasih telah pergi (lagi). Maaf aku tak merasa kehilanganmu seperti dulu.
Oh iya, jangan lagi kau ketuk pintu itu. Mungkin sudah tak ada yang akan menyaut. Aku telah pindah. Pindah darimu..

Awali saja lagi... ( keping dua puluh)

semalam ada yang bertanya ternyata keping-an ku sudah sampai pada angka 19. bisa dibayangkan jika itu sebuah gelas atau vas kaca yang pecah dan baru terkumpul 19 keping. sehancur apa itu?

ini kepingan-kepingan puzzle aku tentang kita dan kalian. aku belum tau akan menjadi gambar cantik seperti apa nantinya. Terima kasih telah menjadi bagian puzzle hidupku. aku menyayangimu dan kalian.

sampai akhirnya aku tiba dikeping ke-20 ini. aku mulai membaca ulang semua kepingan. patah hati, sakit hati, gagal, mengutuk, berpisah. hah...aku bosan. Laut dalam ku kenapa hanya berisi lumpur gelap? kemana terumbu karang cantik warna-warni? ikan badut? teripang? putri duyung? dan lainnya?

membaca lagi keping-keping terdahulu membuatku berfikir harusnya aku benar-benar memaafkan kalian. jika memaafkan berarti melupakan,berarti harusnya aku melupakan sakit hati itu. plus melupakan kalian. namun sayang sekali, beberapa dari kalian menempel terlalu lekat. maafkan aku

aku mulai mencium bau jodohku. dia sudah semakin mendekat. itu menurut fillingku. sepertinya dia seorang yang pemaaf dan tidak terlalu suka mencampuri urusan orang lain. dia pendiam dan memiliki senyum manis.
kamu fikir aku sedang falling in love? hahaa... belum.Ketemu sama orangnyapun belum. Aku hanya berusaha melihatnya dari diriku. Jodoh kita adalah separuh dari kita. cerminan kita. mungkin kali ini aku sedang bercermin ke dia. Aku sedang berusaha lebih pemaaf. atau lebih pelupa? melupakan salah kalian? dan melupakan salahku juga? anggap saja begitu.

kali ini,aku sedang menjatuhkan hati pada diriku sendiri, dan semua yang telah dan akan aku miliki. Terima kasih..

Kamis, 04 Oktober 2012

Kita dan Pantai. Kalian dan gunung. (Keping Sembilan Belas)



Aku bersyukur kita tak pernah menghabiskan waktu bersama disini. Di pantai cantik ini. Ahh... indah sekali dia. Dengan ombak yang tenang, pasir putih, bukit karang, dan suasana sepi. 

Kau tau, amat tau bahwa aku menyukai pantai. Aku tau, amat tau kau menyukai gunung. Memang begitu. Kita berbeda. Dan sampai hari ini aku masih percaya perbedaan ini yang membuat kita bersama. Atau lebih tepatnya pernah bersama. Membagi hari. Membagi sayang satu sama lain.

Itu kemarin, saat kita masih bersama. Sebelum kau memutuskan untuk pergi. Bukan hanya pergi dari kota ini. Tapi juga pergi dari kisah kita. Kita sekarang hanya dua orang dengan film masing-masing. Yang terkadang masih dipertemukan secara tidak sengaja disebuah stasiun tv. Anggap saja begitu.

Aku bersyukur kita tak pernah membuat cerita di pantai cantik ini. Karna jika itu terjadi, mungkin hari ini aku sedang memunguti kembali kenangan yang dulu tanpa sengaja kita cecer. Dan aku pasti hanya akan mengutuk masa lalu disini, dipantai cantik ini. Terima kasih karna tak terlalu menyukai pantai. Terima kasih karna tak membuang cerita kita disini. Karna aku sakit harus memungutinya sendiri.

Bagaimana denganmu dan gunung? Pasti banyak kenangan disana. Iya, kau dan wanita yang membuatmu kecanduan itu. Kalian sering menghabiskan waktu digunung. Bersama. Entah siapa yang menyengajai siapa. Tak terlalu penting mungkin. Karna yang terpenting untukmu adalah kau bisa menghabiskan waktu dengannya. 

Bolehkah aku bertanya, gunung itu secantik apa? Aku bukan tak menyukainnya. Aku hanya terlalu takut menjadi manja. Kau paham maksudku bukan? Kau juga boleh bertanya, pantai itu seperti apa padaku. Aku akan menjawabnya dengan antusias.
Sudahlah. Aku memang hanya ingin berucap terima kasih. Atas kenangan yang tak pernah tercecer di hampir semua pantai-pantai cantik yang aku sukai ini. Dan aku bebas kembali kesini sesukaku. Tanpa membuang waktu mengenang disudut mana kita pernah tertawa bersama. 

Bagaimana denganmu? Kau sedang menyebar banyak kenangan bersamanya di gunung yang kau sukai itu? hingga suatu hari kau sendiri yang mungkin harus memungutinya? Selamat...