Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang
:)
Jumat, 26 Oktober 2012
Surat terakhirku, sayang. (keping duadua)
Dear (ter)sayang,
Saat kau baca ini mungkin aku telah satu langkah didepanmu. Menoleh sebentar kebelakang lalu menggeleng. Dan kau, mungkin sedang memperhatikan wanita itu. Tanpa sadar bahwa aku sudah tak berada lagi ditempatku terakhir kali berdiri. Kau pasti mengira ini masih wanita yang sama. Kau salah sayang. Ini berbeda. Wanitamu banyak. Tapi bukan wanita itu sayang. Bukan.
Kau diam-diam mengagumi wanita ini. Aku tau saat kau tak sadar seperti orang mengigau menyebut namanya beberapa kali. Kau sebut dia cantik. Sayang,apakah kau lupa bahwa semua wanita itu cantik? Kau bilang wanita ini calon ibu yang baik. Sayang apakah kau lupa semua wanita pasti ingin menjadi yang terbaik untuk keluarganya? Kau bilang wanita ini pandai mengurus rumah. Sayang,masih banyak tangan wanita yang belum kau lihat saat mengurus rumah. Satu lagi, kau bilang dia cerdas. Sekali lagi sayang,apakah ada wanita yang tidak cerdas? Kami semua cerdas. Termasuk dalam hal membuat kalian para lelaki bertekuk lutut. Jadi sayang, sebenarnya kami ini sama,dengan sifat dasar kami sebagai wanita.
Sayang, akupun sadar selain sifat dasar kami, kami mempunyai beberapa hal yang berbeda. Si kembarpun juga begitu,bukan? Apalagi kami. Mungkin dibeberapa hal dia lebih terlihat. Akh...aku pemalu sekali untuk hanya sekedar memperlihatkan lebihku didepanmu. Kau belum tentu menjadi pemilik utuhku,jadi untuk apa aku bersusah payah memamerkannya? Kau masih punya mata normal untuk melihatnya sendiri bukan?
Tapi sayang, sedikitpun aku tak ingin menjadi dia. Atau bersikap seolah-olah sepertinya agar kau lebih memperhatikanku. Aku tidak perlu melakukannya. Sungguh.
Sayang,sekarang coba kamu jawab ini. Apakah dia seorang wanita yang perhatian? Mungkin iya. Tapi apakah perhatiannya penuh tertuju kepadamu seperti aku?
Apakah dia seorang wanita yang ikut tertawa bersamamu dan menangis pula saat kau sedih sepertiku? Kau boleh menjawab iya untuk tawa. Tapi tidak untuk bersedih. Dia pernah menertawakan kesedihanmu.
Lalu hal yang terpenting, Apakah hatinya untukmu seperti hatiku untukmu? Sayang sekali sayang, jawabannya "Tidak." Memang semua yang aku sebutkan itu tersembunyi didalam,yang terabaikan oleh mata fisikmu. Tapi apakah mata hatimu tak mau melihatnya juga? Sayang sekali.
Sayang, aku tau kami terlalu indah untuk kalian abaikan. Tapi kami berbeda. Taukah kau mengapa aku tidak terlalu menunjukan apa yang aku punya? Benar, aku seseorang yang mencintai diriku. Aku orang yang suka sekali memeluk diriku sendiri sebelum menyalurkan pelukanku kepadamu. Aku orang yang suka sekali mengkritik diri sendiri sebelum aku sempat mengkritikmu. Aku orang yang sering bercanda dan tertawa bersama diriku sendiri sebelum aku tertawa bersamamu. Dan bagian tersusah adalah aku masih terus belajar memaafkan diriku sendiri sebelum memberi maaf atas salahmu. Apakah dia seperti aku sayang?
Sebelum ini aku sama sekali tidak perduli dia siapa, berumur berapa, bekerja dimana, putri siapa, apa hobbynya dan lain sebagainya. Namun setelah kau beberapa kali mengingau tentangnya, akupun mulai mencari tau. Namun sayang, sedikitpun tak ada yang aku ingini dari dia. Jadi kesimpulannya, jika kau tak mengaguminya mungkin aku tak akan perduli denggannya. Ini salahmu. Dan aku tak ingin terlibat dalam masalah ini. Masalah yang aku sendiri tak tau apa masalah sebenarnya. Jadi aku putuskan untuk tidak memperdulikannya. Dan tidak memperdulikan perhatianmu kepadanya. Oh...saat ini menyayangimu dalam diam dan berpura-pura tidak tau itu memang lebih baik. Tidak sayang, aku tidak menuntut balas. Aku yang memutuskan untuk menyayangimu. Jadi aku pulalah yang harus menanggung resikonya.
Sayang, diluar sana aku tau ada yang sedang mengagumiku seperti kau mengaguminya. Kau pasti tau rasanya mengagumi orang secara diam-diam, bukan? Dia pasti begitu. Sayang, kalau kau tak ingin benar-benar kehilangan orang yang tulus menyayangimu sepertiku, tolong jangan mengabaikanku terlalu lama. Karna mungkin dia akan menemukanku tepat disaat kau baru saja tersadar aku telah pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar