Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Sabtu, 28 Juli 2012

Hujan, tolong titip ceritaku. (keping ketiga belas)




Ingatkah kamu berapa kali kita melewati hujan bersama?

Diawal kisah kita itu kita melewatinya dengan manis.
Ngebut diatas motor menuju rumah.
Aku mengencangkan pelukanku dipinggangmu.
Kamu ngebut dengan brutal berkejaran dengan hujan.
Dengan menggenggam gelas berisi teh hangat kamu  bertanya, “Taukah kamu bau khas tanah yang terkena hujan ini bernama apa?”
Aku menggeleng.
“Ini petrichor.”

Di seperempat kisah kita itu kita melewati dengan haru. Terutama untukku.
Masih ingatkah kamu malam itu dengan hujan yang luar biasa hebat kamu datang kerumahku?
Dengan bagian bawah celana yang basah terkena hujan. Karna jas hujanmu tak mampu menahan hebatnya air yang tumpah dari langit.
Dengan muka cemas aku menyambutmu dipintu.
“Kenapa kamu maksain diri kesini? Kalau kamu sakit gimana?”
Dengan kesal kamu menjawab, ”Aku khawatir sama kamu. Denger suara kamu ditelpon tadi aku nggak tega. Apalagi kamu dirumah sendiri.”
Seketika air mataku menetes.
Haru..ya, seperti itulah perasaanku saat itu.
Dan itu membuatku semakin menyayangimu.

Di pertengahan kisah kita itu kita sempat menjalaninya dengan diam.
Masih ingatkah kamu ketika sore itu kamu mengantarkanku ujian?
Dengan wajah yang masih mengantuk kamu datang kerumahku.
Agak kurang iklas memang saat itu kamu mengantarkanku.
Kamu bilang aku mengganggu jadwal main bolamu.
Tapi walau begitu kamu tetap mengantarku.
Sepanjang perjalanan kita diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Aku cukup tau adatmu. Seorang yang moody.
Dan kalo sudah seperti itu pilihan terbaikku adalah diam.
Sore yang tadinya cerah itu berubah menjadi kelabu. Mendung dan hujan.
“Kamu dimana?” itu isi pesan yang kukirimkan keponselmu.
“Aku dimasjid. Hujannya deres. Tunggu reda sebentar ya.”
Bersama teman-teman aku turun kebawah menunggu hujan reda.
Kamu menelponku, mengajakku pulang.
Aku sedikit menahan karna hujan.
Kamu memaksa. Kita berdebat.
Aku menyerah kalah. Kamu datang. Kita pulang.

Dalam satu jas hujan, kita berdua menerjang air yang ditumpahkam dari langit.
Namun sayang aku mulai tak tahan.
“Bisa kita berhenti sebentar? Aku mulai basah dan kedinginan.”
Dalam diam kamu membelokan motormu mencari tempat berteduh.
Aku sekilas melirikmu. Kau masih diam.
Aku berusaha mengajakmu bicara. Kamu menjawab dengan anggukan dan gelengan. Serta ucapan seperlunya.
Aku mulai tak tahan dengan keadaan. Persetan dengan hujan. Akupun mengajakmu pulang.
Kamu melepaskan jaketmu dan memakaikannya padaku. Masih dalam diam.

Di tiga perempat kisah kita itu kita melewatinya dalam jarak.
Kau dikota itu, aku dikota ini.
Masih berusaha saling setia, saling menghibur, saling menyayangi.
Jika hujan datang dikotamu kamu akan bertanya padaku,”Disana hujan nggak? Sini hujan lho. Jadi tenang  gitu suasananya.”

Dan di akhir kisah kita itu kita melewatinya dengan perpisahan.
Dalam hujan yang menghalangi pertemuan kita hari itu aku tak sempat membaca pertanda.
Aku tetap menunggumu diruang tamu dengan mata sembab.
Hampir larut malam kau datang, masih bersama dengan hujan.
Kita tersenyum kaku dan mulai berbicara.
“Apa maumu sebenarnya?”
“Lebih baik kita selesai saja. Maaf aku jenuh.”
“Apa bukan karna hatimu sudah tidak pada tempatnya?”
Kau mengangguk. Aku terluka.
“Kenapa harus sejahat itu?”
“Akan lebih jahat jika kita masih melanjutkannya.”
Aku masih menawar. Mengajukan beberapa kemungkinan. Kamu menolaknya. Keputusanmu bulat.
Seperti biasa aku menerimanya. Tentu saja dengan berat. Aku bisa apa? Coba kamu yang diposisiku?
Lantas kaupun pulang. Menutup skenario kisah kita. Bersama hujan yang sampai hari ini belum lagi datang. 

1 komentar:

  1. nah bagus nih wik puisi seri cerpenya,, kirim noh sekalian akun twittermu,,

    BalasHapus