Laman

Mari Tumpahkan sebelum meluber

Selamat datang di taman laut saya. Yang lebih suka saya tanami cerita daripada bunga karang

:)


Rabu, 23 Januari 2013

Sajak Sejenak. (keping dua sembilan)


Cuaca Dalam Cerita

Dua anak kecil duduk didepan kelas
Mereka membicarakan tentang panasnya cuaca.
“Hari ini gerah ya. Aku malas bermain layangan.”
Temannya menyetujui dengan mengangguk.
Lalu meneruskan obrolanya tentang panasnya cuaca sambil masuk kelas.
            Dua remaja tanggung duduk di angkot
            Mereka membicarakan tentang panasnya cuaca.
            “kamu kerumahkunya entar malem aja. Aku mau bobok siang.”
            Pemuda diselahnya tersenyum sambil mengangguk.
            Lalu meneruskan obrolannya tentang cuaca dengan tangan saling menggenggam.
Dua wanita dewasa duduk didalam cafe
Mereka mebicarakan tentang panasnya cuaca.
“kulitku bisa iteman kalo harus sering keluar kantor siang-siang.”
Temanya dengan antusias menyetujui.
Lalu mereka meneruskan obrolanya tentang panasnya cuaca dan artis favorit mereka.
            Disisi lain....
            Para ibu-ibu bersyukur akan panasnya cuaca yang membuat cucian mereka kering.
            Penjual es bersyukur karna dagangan mereka laku.
            Penjaja koran pun tak ketakutan dagangannya akan basah karna hujan.
Petani tembakau pun tak takut merugi.
Inilah dunia dimana cuaca bisa menjadi sangat dipuja
Dan dikutuk oleh sebagian manusia lainnya.

Semarang, 2012

Disebuah Perjalanan

Dia
Duduk didalam mobil mengkilap berwarna hitam
Melaju dengan gagah dijalan yang masih sepi
Disebuah kota dibagian selatan
Seharusnya dia berwajah bahagia karna dia tak perlu mengendarai motor kepanasan
Atau engapnya berada di angkot sambil berdesakan
Tetapi anehnya tidak, wajahnya gelisah
Sedih memikirkan nasibnya kelak di akhirat
Memikirkan betapa kecewa kedua orang tuanya yang gagal mengasuhnya
Betapa sedih guru mengajinya yang gagal menanamkan aqidah tentang apa itu pahala dan dosa
Jabatan membuat dia lupa untuk jangka waktu yang lama
Uang membuatnya menghalalkan segala cara
Sanjungan dari publik membuatnya lupa untuk tujuan apa sebenarnya ia di dunia
Dan kesadaran jangka pendeknya berkata..
“seharusnya aku tak mengambil apa yang bukan menjadi hak ku. Seharusnya....”
Mobil itu terus berjalan. Membawa pengemudinya yang mulai tersadar dari dunia fana

Semarang, 2012






Aku, kuharap kau menuju.

Aku ternyata tak lebih dari sebuah rumah untukmu
Tempat dimana kau mulai hanya singgah, bukan tinggal seperti dulu
Mari kita salahkan keadaan
Atau mari kita salahkan perasaan
Kau masih seorang anak yang mulai mendewasa
Yang mulai pergi demi tanggung jawab dan masa depan
Dan aku memainkan peranku sebagai rumah
Tempat kau berpulang namun hanya sementara
Kau memang nyaman, namun hanya sebentar
Pun saat kau pulang kau lebih banyak menghabiskan waktu diluar
Sekali lagi mari kita salahkan keadaan yang membuatmu harus meninggalkanku
Dan hanya pulang sesekali waktu ketika kau rindu atau mempunyai jeda waktu
Itupun jika kau tak mempunyai janji berpetualang dengan hati yang baru
Aku yang sekarang semirip dengan rumah ini
Berharap akan menjadi rumah masa depanmu
Dimana padakulah kau akhirnya menuju

Semarang, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar