Cuaca
Dalam Cerita
Dua anak kecil duduk didepan kelas
Mereka membicarakan tentang panasnya cuaca.
“Hari ini gerah ya. Aku malas bermain layangan.”
Temannya menyetujui dengan mengangguk.
Lalu meneruskan obrolanya tentang panasnya cuaca
sambil masuk kelas.
Dua
remaja tanggung duduk di angkot
Mereka
membicarakan tentang panasnya cuaca.
“kamu
kerumahkunya entar malem aja. Aku mau bobok siang.”
Pemuda
diselahnya tersenyum sambil mengangguk.
Lalu
meneruskan obrolannya tentang cuaca dengan tangan saling menggenggam.
Dua wanita dewasa duduk didalam cafe
Mereka mebicarakan tentang panasnya cuaca.
“kulitku bisa iteman kalo harus sering keluar kantor
siang-siang.”
Temanya dengan antusias menyetujui.
Lalu mereka meneruskan obrolanya tentang panasnya
cuaca dan artis favorit mereka.
Disisi
lain....
Para
ibu-ibu bersyukur akan panasnya cuaca yang membuat cucian mereka kering.
Penjual
es bersyukur karna dagangan mereka laku.
Penjaja
koran pun tak ketakutan dagangannya akan basah karna hujan.
Petani tembakau pun tak
takut merugi.
Inilah dunia dimana cuaca bisa menjadi sangat dipuja
Dan dikutuk oleh sebagian manusia lainnya.
Semarang, 2012
Disebuah
Perjalanan
Dia
Duduk didalam mobil mengkilap berwarna hitam
Melaju dengan gagah dijalan yang masih sepi
Disebuah kota dibagian selatan
Seharusnya dia berwajah bahagia karna dia tak perlu
mengendarai motor kepanasan
Atau engapnya berada di angkot sambil berdesakan
Tetapi anehnya tidak, wajahnya gelisah
Sedih memikirkan nasibnya kelak di akhirat
Memikirkan betapa kecewa kedua orang tuanya yang
gagal mengasuhnya
Betapa sedih guru mengajinya yang gagal menanamkan
aqidah tentang apa itu pahala dan dosa
Jabatan membuat dia lupa untuk jangka waktu yang
lama
Uang membuatnya menghalalkan segala cara
Sanjungan dari publik membuatnya lupa untuk tujuan
apa sebenarnya ia di dunia
Dan kesadaran jangka pendeknya berkata..
“seharusnya aku tak mengambil apa yang bukan menjadi
hak ku. Seharusnya....”
Mobil itu terus berjalan. Membawa pengemudinya yang
mulai tersadar dari dunia fana
Semarang, 2012
Aku,
kuharap kau menuju.
Aku ternyata tak lebih dari sebuah rumah untukmu
Tempat dimana kau mulai hanya singgah, bukan tinggal
seperti dulu
Mari kita salahkan keadaan
Atau mari kita salahkan perasaan
Kau masih seorang anak yang mulai mendewasa
Yang mulai pergi demi tanggung jawab dan masa depan
Dan aku memainkan peranku sebagai rumah
Tempat kau berpulang namun hanya sementara
Kau memang nyaman, namun hanya sebentar
Pun saat kau pulang kau lebih banyak menghabiskan
waktu diluar
Sekali lagi mari kita salahkan keadaan yang membuatmu
harus meninggalkanku
Dan hanya pulang sesekali waktu ketika kau rindu
atau mempunyai jeda waktu
Itupun jika kau tak mempunyai janji berpetualang
dengan hati yang baru
Aku yang sekarang semirip dengan rumah ini
Berharap akan menjadi rumah masa depanmu
Dimana padakulah kau akhirnya menuju
Semarang, 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar